Sebelumnya, informasi yang beredar menyebutkan terdapat tujuh WNI yang mengalami intersepsi oleh otoritas Israel. Namun, GPCI pada Selasa (19/5) malam memastikan dua nama tambahan turut berada dalam kapal yang dicegat.
Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandi, menyampaikan bahwa dua anggota terbaru yang terkonfirmasi mengalami intersep adalah Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo. Keduanya berada di kapal Kasri Sadabat yang ikut dalam rombongan flotilla kemanusiaan menuju Gaza.
“Asad (Asad Aras Muhammad) dan Hendro (Hendro Prasetyo) terkonfirmasi intersep, kapal Kasri Sadabat,” kata Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandi, lewat keterangannya, Selasa (19/5) malam.
Baca Juga: 2 Relawan Dompet Dhuafa Ditawan Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza
Dari daftar yang dirilis GPCI, mayoritas WNI yang diduga ditahan merupakan jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang terlibat dalam misi solidaritas internasional untuk Gaza. Mereka berasal dari berbagai organisasi media dan lembaga kemanusiaan di Indonesia.
Berikut identitas sembilan WNI yang dilaporkan berada dalam kapal-kapal yang dicegat Israel:
- Thoudy Badai, jurnalis Republika, berada di kapal Ozgurluk.
- Rahendro Herubowo, mantan jurnalis iNews, berada di kapal Ozgurluk.
- Bambang Noroyono, jurnalis Republika, berada di kapal Boralize.
- Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis TV Tempo, berada di kapal Ozgurluk.
- Andi Angga, aktivis kemanusiaan, berada di kapal Josef.
- Herman Budiyanto Sudarsono, aktivis, berada di kapal Zafiro.
- Ronggo Wirasano, aktivis, berada di kapal Zafiro.
- Asad Aras Muhammad dari GPCI, berada di kapal Kasri Sadabat.
- Hendro Prasetyo dari GPCI, berada di kapal Kasri Sadabat.
Nama Rahendro Herubowo sebelumnya sempat disebut sebagai jurnalis iNews. Namun, Pemimpin Redaksi iNews, Aiman Witjaksono, menyatakan bahwa Rahendro telah mengundurkan diri dari perusahaan media tersebut sejak Agustus 2022.
Kasus ini memicu perhatian publik karena insiden disebut terjadi di wilayah perairan internasional. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak Israel terkait status maupun kondisi para WNI tersebut.
Sementara itu, sejumlah organisasi kemanusiaan dan pegiat HAM di Indonesia terus mendesak adanya langkah diplomatik guna memastikan keselamatan seluruh WNI yang mengikuti misi kemanusiaan tersebut.