Ntvnews.id, Los Angeles - Centers for Disease Control and Prevention pada Senin, 18 Mei 2026, menyatakan bahwa Amerika Serikat memperketat pembatasan perjalanan guna mencegah masuknya penyakit Ebola ke wilayah negara tersebut di tengah wabah yang masih berlangsung di kawasan Afrika Timur dan Afrika Tengah.
CDC Amerika Serikat dalam keterangannya menyebut pihaknya bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan sejumlah badan federal lainnya untuk menerapkan berbagai langkah pencegahan terhadap penyebaran virus Ebola galur Bundibugyo ke AS.
Langkah-langkah tersebut mencakup peningkatan pemeriksaan kesehatan masyarakat serta pemantauan terhadap individu yang datang dari wilayah terdampak wabah Ebola.
Baca Juga: Korban Wabah Ebola Meingkat, Tembus 87 Jiwa
Selain itu, pemerintah AS juga memberlakukan pembatasan masuk bagi pemegang paspor non-AS yang dalam 21 hari terakhir pernah berada di Uganda, Republik Demokratik Kongo, atau Sudan Selatan.
CDC juga melakukan koordinasi dengan maskapai penerbangan, mitra internasional, hingga petugas di pelabuhan masuk untuk mengidentifikasi pelaku perjalanan yang berpotensi terpapar virus Ebola.
Disebutkan pula bahwa CDC AS akan memperkuat langkah perlindungan kesehatan di berbagai pelabuhan masuk, pelacakan kontak, kapasitas pengujian laboratorium, serta kesiapsiagaan rumah sakit di tingkat nasional.
Selain itu, lembaga tersebut akan terus mengerahkan personel CDC untuk mendukung penanggulangan wabah di wilayah terdampak.
"Risiko langsung terhadap masyarakat umum AS saat ini masih rendah," kata badan tersebut, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengevaluasi perkembangan situasi dan dapat menyesuaikan langkah-langkah kesehatan masyarakat apabila terdapat informasi tambahan.
Menurut CDC, hingga saat ini belum tersedia vaksin khusus untuk virus Ebola galur Bundibugyo.
Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Global
Penanganan utama terhadap pasien masih berupa perawatan suportif.
Hingga Senin, 18 Mei 2026, tercatat sebanyak 11 kasus terkonfirmasi dan 336 kasus suspek termasuk 88 kematian di Republik Demokratik Kongo. Sementara itu, Uganda melaporkan dua kasus terkonfirmasi termasuk satu kematian.
Para pasien dilaporkan mengalami gejala klasik Ebola seperti demam, sakit kepala, muntah, tubuh sangat lemah, nyeri perut, mimisan, hingga muntah darah.
Sebelumnya, pada Minggu, 17 Mei 2026, CDC Afrika telah memperingatkan bahwa wabah Ebola tersebut berpotensi menimbulkan risiko penyebaran regional yang terus meningkat.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Virus Nipah, ancaman baru setelah pandemi COVID-19. ANTARA/Shutterstock/aa. (Antara)