Korban Wabah Ebola Meingkat, Tembus 87 Jiwa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 11:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi virus. Ilustrasi virus. (Pixabay)

Ntvnews.id, Kongo - Jumlah korban meninggal akibat wabah Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, dilaporkan terus meningkat hingga sedikitnya mencapai 87 orang.

Otoritas kesehatan Afrika kini mengeluarkan peringatan terkait adanya “penularan komunitas aktif” yang dinilai dapat memperbesar risiko penyebaran lintas wilayah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menyebutkan bahwa petugas kesehatan saat ini mempercepat langkah pemeriksaan, pelacakan kontak, serta pengawasan di lapangan guna menekan laju penyebaran virus mematikan tersebut.

Kondisi di wilayah terdampak dilaporkan semakin memprihatinkan. Warga di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, menggambarkan situasi dengan meningkatnya angka kematian dan pemakaman yang hampir terjadi setiap hari.

“Setiap hari, orang-orang meninggal, dan ini sudah berlangsung sekitar seminggu. Dalam sehari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang,” ujar warga Bunia, Jean Marc Asimwe, dikutip dari AsiaOne, Senin, 18 Mei 2026.

Berdasarkan data terbaru Africa CDC, tercatat 336 kasus suspek dan 13 kasus positif Ebola yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Dari kasus positif tersebut, empat pasien dilaporkan meninggal dunia.

Baca Juga: Waspada Wabah Ebola Strain Bundibugyo yang Mematikan

Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya menjelaskan bahwa wabah ini pertama kali terdeteksi di zona kesehatan Mongwalu, sebuah wilayah pertambangan dengan mobilitas penduduk yang tinggi.

Ia menambahkan bahwa penyebaran kemudian meluas ke Rwampara dan Bunia setelah sejumlah pasien berpindah lokasi untuk mencari pengobatan. “Penularan komunitas aktif di Mongwalu membuat pelacakan kontak menjadi jauh lebih sulit,” kata Kaseya.

Dari total 87 korban meninggal, sebanyak 57 kematian tercatat di Mongwalu, 27 di Rwampara, dan tiga lainnya di Bunia.

Menteri Kesehatan Kongo Samuel-Roger Kamba mengonfirmasi bahwa wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo, berbeda dengan strain Zaire yang sebelumnya paling sering muncul di Kongo.

Kasus awal diduga berasal dari seorang tenaga kesehatan di Bunia yang meninggal pada 24 April setelah mengalami gejala demam, pendarahan, muntah, serta kelemahan berat.

Wabah ini menjadi yang ke-17 di Republik Demokratik Kongo sejak virus Ebola pertama kali terdeteksi pada 1976.

Foto arsip ini, yang diambil pada 11 Oktober 2009, menunjukkan petugas medis militer memeriksa pasien di Bukavu, ibu kota Provinsi Sud-Kivu, Republik Demokratik Kongo (DRC). ANTARA Xinhua/He Changzhen <b>(Antara)</b> Foto arsip ini, yang diambil pada 11 Oktober 2009, menunjukkan petugas medis militer memeriksa pasien di Bukavu, ibu kota Provinsi Sud-Kivu, Republik Demokratik Kongo (DRC). ANTARA Xinhua/He Changzhen (Antara)

Penanganan di Ituri juga menghadapi tantangan serius akibat konflik bersenjata dan aktivitas kelompok militan, yang menghambat pergerakan tim medis serta proses pengawasan kesehatan.

Selain itu, keterbatasan fasilitas laboratorium turut memperlambat penanganan. Hingga kini, baru 13 sampel yang diperiksa di Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, dengan delapan di antaranya dinyatakan positif varian Bundibugyo.

Baca Juga: Cerita Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Jalani Isolasi Wabah Hantavirus

Penyebaran Ebola kini mulai menimbulkan kekhawatiran regional setelah Uganda melaporkan satu kasus impor dari Kongo. Pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei.

Meski belum ditemukan penularan lokal di Uganda, kekhawatiran masyarakat meningkat terhadap potensi wabah baru. “Saya benar-benar takut karena saya teringat pandemi Covid-19,” ujar warga Kampala, Ismail Kigongo.

Sementara itu, Kenya memperketat pengawasan dan meningkatkan status kewaspadaan di seluruh pintu masuk perbatasan untuk mencegah potensi penyebaran virus Ebola.

x|close