Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Indonesia saat ini tengah meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat berbagai persiapan untuk menghadapi fenomena El Nino dan potensi musim kemarau panjang pada 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli Antoni dalam rangkaian Sidang ke-21 Forum Kehutanan Persatuan Bangsa-Bangsa atau United Nations Forum on Forests (UNFF21) yang berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, pada awal pekan ini.
“Tahun ini kita harus jauh lebih hati-hati. Adanya potensi kemarau yang lebih panjang akibat El Nino menuntut kewaspadaan tinggi dari kita semua,” kata Menhut Raja Antoni dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca Juga: Hadapi Potensi Musim Kering Panjang, Sinar Mas Inisiasi Apel Siaga Karhutla Libatkan Multipihak
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis data cuaca, fenomena El Nino dengan intensitas rendah hingga moderat diperkirakan terjadi pada Juni 2026.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dibanding biasanya.
“Saya meminta seluruh jajaran dan mitra terkait untuk tidak lengah dan terus meningkatkan patroli serta pemantauan di wilayah-wilayah rawan,” ujar Menhut.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam penyerahan sembilan Surat Keputusan (SK) kepada sebanyak 328 kepala keluarga di Desa Wisata Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (9/4/2026). (ANTARA/HO-Kemenhut RI) (Antara)
Dalam agenda UNFF21 tersebut, Raja Juli Antoni juga melaporkan capaian Indonesia dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut dia, pencapaian tersebut menjadi bukti komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat aksi iklim melalui perlindungan ekosistem hutan secara berkelanjutan.
Menhut menyebutkan bahwa dalam satu dekade terakhir Indonesia berhasil menurunkan luas kebakaran hutan dan lahan hingga 86 persen.
“Keberhasilan ini merupakan hasil dari penguatan sistem pencegahan dan peringatan dini yang terintegrasi, penegakan hukum yang tegas, serta pendekatan berbasis masyarakat di tingkat tapak,” kata dia.
Capaian positif tersebut, lanjutnya, terus berlanjut dalam periode satu tahun terakhir, yakni 2024-2025, di mana Indonesia mencatat penurunan luas karhutla secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga:KSP Pastikan Kesiapsiagaan Karhutla Lewat Koordinasi Terpadu
Menurut Raja Juli Antoni, penurunan tersebut didorong oleh penguatan pemantauan titik panas atau hotspot serta respons cepat pemadaman yang dilakukan tim gabungan di lapangan.
Ia juga menegaskan bahwa upaya menekan angka kebakaran hutan dan lahan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah pusat, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari masyarakat, aparat penegak hukum, hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Kolaborasi dan kesiapsiagaan adalah kunci. Kita harus memastikan bahwa angka karhutla dapat terus ditekan demi menjaga kelestarian hutan dan memastikan kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” kata Menhut.
(Sumber: Antara)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menghadiri Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests (UNFF21) yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Senin 11 Mei 2026. (ANTARA/HO-Kemenhut RI) (Antara)