Ntvnews.id, Tepi Barat - Warga Israel dilaporkan memaksa warga Palestina di Tepi Barat untuk membongkar kembali makam keluarga mereka. Peristiwa tersebut disebut terjadi di dekat permukiman Sa-Nur yang baru kembali didirikan, dengan alasan lokasi pemakaman terlalu dekat dengan area permukiman Israel.
Dilansir dari Middle East Eye, Rabu, 13 Mei 2026, menyebutkan bahwa keluarga Hussein Asasa menghadapi tekanan dari sejumlah warga Israel yang mendesak agar makam almarhum segera dibongkar, tak lama setelah proses pemakaman selesai. Tekanan itu muncul setelah keluarga menyaksikan adanya aktivitas penggalian di area kuburan oleh warga Israel.
Insiden bermula ketika sejumlah warga Israel menggali makam di lokasi tersebut, yang kemudian memicu ketegangan dengan warga Palestina. Padahal, pihak keluarga mengklaim telah mengantongi izin dari otoritas Israel untuk melakukan pemakaman di area tersebut.
Situasi kemudian memburuk ketika militer Israel tidak meredakan ketegangan, melainkan justru meminta pihak keluarga Palestina untuk membongkar makam tersebut secara mandiri. Militer Israel disebut meminta agar jenazah dipindahkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Sa-Nur dan berada di bawah pengawasan militer.
Baca Juga: Pemukim Israel Lakukan Aksi Pembakaran di Tepi Barat, Sejumlah Warga Palestina Terluka
Kepala Kantor HAM PBB United Nations Human Rights Office, Ajith Sunghay, mengecam keras insiden tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai bentuk dehumanisasi terhadap warga Palestina.
"Ini mengerikan dan merupakan lambang dehumanisasi warga Palestina yang kita saksikan terjadi di seluruh wilayah pendudukan Palestina," kata Sunghay.
"Tidak ada yang luput dari perlakuan ini, baik yang hidup maupun yang telah meninggal," lanjutnya.
Ilustrasi markas UNRWA di Tepi Barat, Palestina./ANTARA/Anadolu/py (Antara)
Kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dilaporkan terus terjadi sejak pendudukan Israel, dan meningkat tajam setelah eskalasi konflik di Jalur Gaza pada 2023.
Selain itu, pemukim Israel disebut hampir setiap hari melakukan berbagai bentuk kekerasan, mulai dari vandalisme, pembakaran, pengusiran paksa, hingga serangan bersenjata terhadap warga Palestina.
Dalam insiden sebelumnya, dua warga Palestina termasuk seorang remaja dilaporkan tewas ditembak dalam serangan di dekat sebuah sekolah di timur laut Ramallah.
Data Komisi Penanggulangan Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Otoritas Palestina mencatat sedikitnya 50 warga Palestina telah tewas akibat aksi warga Israel sejak Oktober 2023.
Pemukim Ilegal Israel sita Domba Warga Palestina di Tepi Barat (Antara)