Ntvnews.id, Teheran - Presiden Masoud Pezeshkian melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan perdana menteri terpilih Irak, Ali al-Zaidi, pada Selasa, 5 Mei 2026.
Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap membuka peluang dialog selama berada dalam koridor hukum internasional.
Namun, ia juga menekankan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap ancaman kekerasan.
Pezeshkian mengatakan bahwa:
"Masalah kami adalah di satu sisi, Amerika Serikat (AS) menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap negara kami, dan di sisi lainnya, AS berharap Iran duduk di meja perundingan dan pada akhirnya menyerah tuntutan sepihaknya. Kondisi semacam itu mustahil terwujud," urai pernyataan yang dipublikasikan oleh kantor Pezeshkian.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak memandang perang maupun ketidakamanan sebagai pilihan yang menguntungkan bagi negaranya.
Baca Juga: Trump Tangguhkan Proyek Freedom di Selat Hormuz, Buka Peluang Kesepakatan dengan Iran
Lebih lanjut, Pezeshkian menekankan bahwa Iran tidak boleh mengorbankan teknologi nuklirnya.
Ia menilai Amerika Serikat seolah-olah melarang Iran memiliki industri nuklir, sekaligus memberikan tekanan tambahan melalui tuntutan yang dinilai berlebihan.
Presiden Iran tersebut juga menambahkan bahwa dalam keseluruhan perundingan sebelumnya, Iran sepenuhnya siap memberikan, sesuai dengan kerangka regulasi internasional dan pemantauan global, segala hal yang dianggap perlu di bawah norma-norma internasional guna memastikan aktivitas nuklirnya bersifat damai.
Dalam pernyataannya, Al-Zaidi menyampaikan kesiapan Irak untuk menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat demi meredam ketegangan di kawasan, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi dari kantor medianya.
Menurut pernyataan tersebut, kedua pihak juga sepakat untuk melakukan pertukaran kunjungan resmi dalam waktu dekat guna memperkuat hubungan bilateral.
Baca Juga: Iran Terapkan Mekanisme Baru Izin Kapal di Selat Hormuz
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan senior dan warga sipil.
Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset milik AS di kawasan Timur Tengah.
Gencatan senjata akhirnya tercapai pada 8 April 2026.
Setelah itu, perundingan damai berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April 2026, namun belum menghasilkan kesepakatan.
(Sumber: Antara)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa 05 Mei 2026 melakukan pembicaraan via telepon dengan perdana menteri terpilih Irak, Ali al-Zaidi. Dalam pembicaraan itu, Pezeshkian mengatakan Iran siap menjalin dialog dalam kerangka hukum internasional, namun tidak akan tunduk pada ancaman kekerasan. ANTARA/Xinhua. (Antara)