Ntvnews.id , Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi unggulan sebagai langkah konkret dalam melindungi kawasan Pesisir Utara Jawa (Pantura) dari ancaman banjir rob yang semakin meningkat.
Kepala BRIN, Arif Satria, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, menjelaskan bahwa teknologi tersebut mencakup tanggul tegak modular multifungsi serta blok modular beton yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pantai, tetapi juga memiliki nilai tambah seperti penangkap energi gelombang dan jalur transportasi.
"Penguasaan teknologi oleh anak bangsa dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan rob di Pantura sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional," katanya.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien.
Baca Juga: BRIN: 65,8 Persen Pantura Jawa Mengalami Erosi, Ancaman Kian Serius
Teknologi ini telah diterapkan di 11 daerah, termasuk pengembangan terbaru pada 2025 di Nusa Penida, serta sebelumnya di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
"Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana," lanjut dia.
BRIN turut menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan infrastruktur seperti tanggul dan dermaga dimanfaatkan sebagai pembangkit energi mandiri.
Pendekatan lain yang dikembangkan adalah hybrid eco-engineering, yakni kombinasi antara rekayasa teknis dan solusi berbasis alam untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus memulihkan ekosistem.
"Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya lebih dari 70 persen," ujarnya.
Menanggapi upaya tersebut, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah meminta agar rencana induk (master plan) perlindungan Pantura segera disusun.
Didit menjelaskan bahwa penyusunan rencana tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, hingga para ahli di bidang terkait.
"Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kita bicarakan lebih dari enam bulan, bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar," ucapnya.
Baca Juga: BPBD DKI Catat 22 RT di Jakarta Timur Terendam Banjir, Ketinggian Capai 195 Cm
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam menangani kawasan Pantura.
Ia menyoroti besarnya peran wilayah tersebut terhadap perekonomian nasional, yang menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Mengingat terdapat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah pantura Jawa. Sementara itu, sekitar 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir. Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua," tutur AHY.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Kendaraan bermotor yang didominasi pemilir melaju perlahan di jalur pantai utara (Pantura) Semarang-Demak yang tergenang banjir rob (limpasan air laut ke daratan), Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat 27 Maret 2026. ANTARA FOTO/Aji Styawan/wpa. (Antara)