Peneliti BRIN Tawarkan Solusi Pengolahan Limbah Program MBG

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 09:20
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pekerja menyiapkan pakan untuk maggot dari limbah sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Keraton Solo (YMKS) di Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa 16 Desember 2025. Badan Gizi Nasional (B Pekerja menyiapkan pakan untuk maggot dari limbah sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Keraton Solo (YMKS) di Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa 16 Desember 2025. Badan Gizi Nasional (B (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Basuki Rachmat, mengusulkan berbagai solusi inovatif untuk mengelola limbah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026, Basuki menjelaskan bahwa limbah makanan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi melalui penerapan teknologi modern.

"Teknologi pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, dan hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai, seperti biogas, biochar, serta energi listrik," katanya.

Selain pendekatan berbasis teknologi tinggi, ia juga menekankan bahwa metode sederhana tetap relevan, khususnya untuk skala kecil atau komunitas.

Baca Juga: Budiman Sudjatmiko: Program MBG Jadi Gerakan Ekonomi Sirkular Rakyat

"Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk," ujarnya.

Basuki menambahkan bahwa pemilihan metode pengolahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing wilayah atau institusi.

Setiap teknologi memiliki karakteristik, biaya, serta tingkat efektivitas yang berbeda, sehingga perlu dipertimbangkan secara matang.

Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan limbah pangan yang baik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

"Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya," ucap Basuki.

Baca Juga: BPS: Program MBG Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen di Awal 2026

Menurutnya, pengelolaan limbah dari program MBG perlu dioptimalkan melalui penerapan teknologi mutakhir serta pendekatan ekonomi sirkular, sehingga sisa makanan dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai tinggi.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun, yang sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, hingga sosial.

Oleh karena itu, pengelolaan yang tepat menjadi hal yang sangat penting.

"Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus diterapkan untuk meminimalkan limbah serta memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali," tutur Basuki Rachmat.

(Sumber: Antara)

x|close