Ntvnews.id
"Logamnya itu kan ada di tubuh, nanti kalau sudah terkubur, selama dia tidak terpapar lagi sama proses oksidasi, tidak keluar melalui runoff aliran air, dia akan terkoleksi di sekitaran situ, karena dikuburnya di media yang agak dalam, 1-2 meter," katanya di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu berasal dari karakteristik alaminya sebagai pemakan segala (omnivora), yang memungkinkan ikan tersebut menyerap berbagai zat, termasuk logam berat dari lingkungan perairan.
Menurutnya, logam berat tersebut tidak dikeluarkan melalui proses ekskresi dalam bentuk feses. Sebaliknya, zat tersebut masuk ke organ hati melalui sistem pencernaan dan kemudian terikat dalam jaringan daging melalui protein.
Baca Juga: BRIN: Riset dan Inovasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional
"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang. Tapi karena sudah dipindah ke air yang bersih, (kandungannya) tidak akan nambah. Nah selama dia terkontrol di air bersih, (logam berat) yang sudah terserap itu tetap di situ," ujarnya.
Triyanto menambahkan, hingga saat ini metode penangkapan rutin yang diikuti dengan penguburan masih menjadi cara paling efektif dan efisien untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang berasal dari Amerika Selatan.
Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan lain, seperti memasukkan predator baru seperti ikan arapaima atau ikan piranha, justru berpotensi menimbulkan masalah ekologi baru di masa depan.
Sebagai alternatif, ia menekankan pentingnya perbaikan kualitas air agar ekosistem alami dapat pulih dan mendukung kehidupan ikan lokal.
"Justru yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki kondisi kualitas air, tidak ada pencemaran, ikan lokal tumbuh, berlangsunglah predasi alami. Jadi ada nanti ikan baung, ikan gabus bisa hidup," kata dia.
Baca Juga: BRIN Kaji Teknologi Bantalan Rel Karet Komposit untuk Tingkatkan Keselamatan Kereta
Lebih lanjut, Triyanto juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan predator alami di lingkungan perairan.
"Di Ciliwung itu dulu ada labi-labi yang besar ya, sekarang sudah tidak ditemukan. Kalau bisa kita munculkan lagi predator-predator alami seperti biawak, berang-berang itu (agar) tidak ditangkapi oleh masyarakat ya, tetap harus ada, itu bisa mengendalikan secara alami (populasi ikan sapu-sapu)," demikian Triyanto.
(Sumber: Antara)
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Triyanto ditemui di Kantor BRIN, Jakarta, Kamis (30/4/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad (Antara)