BPS: Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Melambat di 2025

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 16:08
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026 ANTARA/Bayu Saputra. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026 ANTARA/Bayu Saputra. (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta - Badan Pusat Statistik melaporkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia menunjukkan perlambatan berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan penduduk tercatat sebesar 1,08 persen per tahun, sedikit lebih rendah dibandingkan capaian 1,10 persen pada Sensus Penduduk 2020.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 284,67 juta jiwa.

“Penduduk Indonesia masih terus bertumbuh dengan laju 1,08 persen per tahun dalam 5 tahun terakhir, dan setengahnya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

SUPAS 2025 sendiri merupakan survei yang dilakukan di antara dua periode sensus untuk menggambarkan kondisi demografi, termasuk aspek fertilitas, mortalitas, dan mobilitas penduduk.

Baca Juga: BPS: Jumlah Penduduk Bekerja Naik Jadi 147,91 Juta, Pengangguran Turun 4,74 Persen

Hasilnya menunjukkan sekitar 55,65 persen penduduk Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, menandakan ketimpangan distribusi penduduk yang masih tinggi.

Dari sisi struktur usia, mayoritas penduduk Indonesia didominasi kelompok usia produktif.

Sekitar 68,92 persen penduduk merupakan generasi Generasi Z, Generasi Milenial, serta Post-Gen Z (kelahiran 2013 ke atas).

Sementara itu, rasio ketergantungan tercatat sebesar 45,05, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia nonproduktif, meningkat dari 44,33 pada 2020.

Dari indikator kelahiran, Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) mengalami penurunan menjadi 2,13 dari sebelumnya 2,18.

Penurunan ini terutama terjadi pada kelompok perempuan usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun.

Di sisi lain, indikator kesehatan juga menunjukkan perkembangan positif, dengan Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR) turun menjadi 14,12 per 1.000 kelahiran hidup dari 16,85 pada 2020.

Baca Juga: Menko Muhaimin: 1,36 Juta Penduduk Miskin Ekstrem Telah Naik Kelas

Selain itu, Angka Kematian Ibu Melahirkan (Maternal Mortality Ratio/MMR) juga mengalami penurunan signifikan menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup, dibandingkan 189 pada 2020.

Angka ini bahkan lebih dari setengah lebih rendah dibandingkan kondisi pada 2010 yang mencapai 346.

Sementara dari sisi mobilitas, BPS mencatat adanya peningkatan migrasi internasional, dan secara domestik DKI Jakarta menjadi daerah dengan tingkat migrasi keluar antarprovinsi tertinggi.

(Sumber: Antara)

x|close