Ntvnews.id, Moskow - Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer yang digagas Amerika Serikat untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron pada Senin, 4 Mei 2026 di sela-sela pertemuan Komunitas Politik Eropa yang berlangsung di Yerevan, Armenia.
Sehari sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan inisiatif bertajuk “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang tertahan di jalur strategis tersebut.
Menurut United States Central Command (CENTCOM), operasi itu melibatkan kekuatan militer besar, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel. Operasi tersebut mulai dijalankan pada Senin pagi.
Baca Juga: Inggris–Prancis Sepakati Kerja Sama Rp11,6 Triliun untuk Tekan Migrasi Ilegal di Selat Inggris
“Kami tidak akan ikut serta dalam operasi bersenjata yang, menurut saya, belum memiliki kejelasan,” ujar Macron kepada wartawan.
Meski menolak keterlibatan militer, Macron tetap mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi. Ia menyerukan agar Selat Hormuz dapat kembali dibuka melalui kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurutnya, koordinasi antara Teheran dan Washington menjadi kunci untuk menjamin kelangsungan arus pelayaran di jalur vital tersebut secara berkelanjutan.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran.
Baca Juga: Irak Klaim Produksi Minyak Bisa Pulih dalam Sepekan Usai Selat Hormuz Normal
Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa hasil, sementara Amerika Serikat mulai menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Saat ini, sejumlah pihak mediator tengah berupaya mengatur kembali putaran perundingan guna meredakan ketegangan yang masih berlangsung.
(Sumber: Antara)
Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. (Antara)