Ntvnews.id, Baghdad - Wakil Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyebut negaranya mampu mengembalikan produksi dan ekspor minyak ke level sebelum krisis Selat Hormuz dalam waktu sekitar tujuh hari setelah jalur pelayaran kembali beroperasi normal.
“Produksi dan ekspor minyak Irak dapat dipulihkan ke tingkat sebelum penutupan Selat Hormuz dalam tujuh hari setelah pelayaran kembali pulih secara bebas,” ujar Mohammed, seperti dikutip Antara, Senin, 4 Mei 2026.
Saat ini, produksi minyak Irak tercatat sekitar 1,5 juta barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ribu barel per hari diekspor melalui terminal Ceyhan di Turki.
Sebelum terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, produksi minyak nasional Irak mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari.
Baca Juga: Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz, Semua Kapal Wajib Izin
Pemerintah Irak juga sedang mengevaluasi kesiapan jalur pipa Kirkuk-Fish-Kabur yang merupakan cabang baru dari jaringan utama Kirkuk-Ceyhan. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya diversifikasi jalur ekspor energi.
Uji coba operasional jalur pipa tersebut dijadwalkan dilakukan pada akhir bulan ini.
Blokade Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik regional sebelumnya telah menghambat distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)
Gangguan itu memberi dampak besar terhadap produksi, ekspor, hingga harga energi dunia, termasuk memicu kenaikan harga minyak di sejumlah negara.
Sebagai salah satu produsen utama dalam organisasi OPEC, Irak kini berupaya mempercepat pemulihan sektor energinya demi mengurangi dampak ekonomi akibat krisis maritim tersebut.
Ilustrasi jalur pelayaran di Selat Hormuz, Teluk Persia. (Anadolu)