Cegah Preeklamsia dengan Deteksi Dini, Ini Ciri-cirinya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Sep 2026, 12:22
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi Ibu Hamil Ilustrasi Ibu Hamil (Pixabay)

Ntvnews.id, Jakarta - Hari Preeklamsia Sedunia diperingati setiap 22 Mei sebagai momentum untuk meningkatkan pemahaman mengenai preeklamsia, termasuk mengenali tanda-tanda bahayanya. Pengetahuan tersebut penting untuk mencegah komplikasi kehamilan yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan umumnya mulai muncul ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Karena itu, ibu hamil perlu memperhatikan kondisi kesehatan serta melakukan pemeriksaan secara rutin.

Untuk meningkatkan pemahaman mengenai kondisi tersebut, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat, menggelar seminar yang membahas preeklamsia dan upaya deteksi dininya.

Kepala Staf Medik Fungsional Kebidanan dan Kandungan RSUD Tarakan, dr. Ekarini Aryasatiani, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Preeklamsia Sedunia. Seminar juga diarahkan untuk meningkatkan kepedulian tenaga kesehatan sekaligus memberikan pemahaman mengenai tanda-tanda preeklamsia.

Baca JugaHasil Tes Kesehatan Pramono Anung-Rano Karno Diumumkan Hari Ini di RSUD Tarakan

Cegah Kematian Ibu dan Anak, RSUD Tarakan Gelar Seminar Tentang Preeklamsia. Cegah Kematian Ibu dan Anak, RSUD Tarakan Gelar Seminar Tentang Preeklamsia.

“Di sini kami mengundang jajaran puskesmas se-DKI Jakarta untuk meningkatkan kepedulian sekaligus pembelajaran bagi tenaga kesehatan,” ujar Ekarini.

Ekarini menjelaskan bahwa deteksi awal preeklamsia pada ibu hamil dapat dilakukan dengan memperhatikan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah menjadi salah satu tanda awal yang perlu mendapat perhatian.

“Tingginya tensi pada ibu hamil itu jangan dianggap remeh, karena itu ciri ciri awal menuju preeklamsia,” ucapnya.

Menurut Ekarini, penanganan preeklamsia membutuhkan perhatian bersama. Ia menyebut kondisi tersebut masih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu dan bayi, baik di Indonesia maupun Jakarta.

Baca JugaTerkuak Penyebab RSUD H.M. Ryacudu Ludes Terbakar

Ilustrasi - Pemerikasaan Ibu Hamil <b>(Pinterest/vecteezy)</b> Ilustrasi - Pemerikasaan Ibu Hamil (Pinterest/vecteezy)

Ia berharap pemahaman dan penanganan yang tepat dapat membantu menjaga kesehatan ibu selama kehamilan hingga melahirkan bayi dalam kondisi sehat.

“Saya berharap mudah-mudahan para petugas kesehatan bisa lebih paham dan masyarakat pun juga lebih paham, karena tensi yang tinggi bukan hal biasa untuk ibu hamil, sehingga kepada ibu hamil harus langsung diperiksakan,” harapnya.

Kasie Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Pusat, dr. Dina Nurdjannah, mengatakan tanda awal preeklamsia dapat diketahui melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer, baik puskesmas maupun rumah sakit.

“Tekanan darah 140/90 ataupun yang melebihi itu pada ibu hamil merupakan deteksi dini dan ciri awal terjadinya preeklamsia,” jelas Dina.

Dina menambahkan bahwa pencegahan preeklamsia dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat. Menurutnya, kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu dasar penting dalam menjaga kondisi kesehatan selama kehamilan.

“Kita bisa mencegah terjadinya preeklamsia, karena basic-nya semua itu dari gaya hidup. Dengan makan teratur dan sehat serta mengurangi konsimsi garam berlebih atau gula berlebih bisa menghindari preeklamsia tersebut, sehingga ketika memasuki masa kehamilan kondisi kesehatan menjadi optimal,” pungkasnya.

HIGHLIGHT

x|close