Kemenkes Pastikan Belum Ada Penularan Hantavirus ke Manusia di Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Mei 2026, 18:54
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni dalam konferensi pers tentang kewaspadaan hantavirus yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (11/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari Tangkapan layar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni dalam konferensi pers tentang kewaspadaan hantavirus yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (11/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)


Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan menegaskan hingga saat ini belum ditemukan bukti penularan hantavirus dari tikus ke manusia di Indonesia sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada 1991.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menjelaskan bahwa kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berbeda dengan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia.

"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," katanya di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.

Andi menegaskan bahwa kasus HPS di kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh strain Andes virus yang dalam sejumlah penelitian diketahui dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Baca Juga: Kemenkes Pastikan WNA Kontak Erat Kasus Hantavirus di MV Hondius Negatif

Namun, untuk tipe HFRS yang ditemukan di Asia termasuk Indonesia, hingga kini belum terdapat bukti penularan antar-manusia.

Ia juga memaparkan sejumlah faktor risiko penularan hantavirus, di antaranya kontak dengan tikus atau celurut melalui gigitan, urin, feses, hingga debu yang telah terkontaminasi virus.

"Kelompok berisiko meliputi petugas sampah, petani, pekerja di bangunan lama, daerah banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah. Secara global, kasus hantavirus tersebar di Eropa, Amerika, dan Asia. Untuk Indonesia, sejak 2024 hingga 2026 tercatat 23 kasus HFRS, tanpa temuan HPS," katanya.

Penelitian sebelumnya juga menemukan virus hanta pada tikus dan celurut di 29 provinsi melalui studi Rikhus Vektora.

Sementara itu, terkait kejadian di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, otoritas kesehatan Inggris melaporkan adanya klaster Severe Acute Respiratory Illness (SARI) pada Jumat, 02 Mei 2026.

Hingga Minggu, 10 Mei 2026, tercatat delapan kasus yang terdiri atas enam kasus terkonfirmasi dan dua probable dengan tiga kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 37,5 persen.

Kapal tersebut membawa 149 penumpang dari 23 negara dan tidak terdapat warga negara Indonesia di dalamnya.

Kemenkes juga menerima notifikasi dari International Health Regulation National Focal Point Inggris terkait satu kontak erat warga negara asing yang berdomisili di Jakarta Pusat dan sempat berada dalam satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal dunia.

Baca Juga: Kemenkes Perkuat Skrining Hantavirus usai Kasus di Kapal Pesiar Viral

Namun, hasil pemeriksaan laboratorium PCR terhadap warga negara asing laki-laki berinisial KE (60) yang tinggal di Jakarta Pusat dinyatakan negatif.

Meski demikian, Andi memastikan pemantauan terhadap pasien tetap dilakukan secara ketat.

Saat ini, pasien tersebut masih menjalani pengawasan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.

Ia juga menegaskan bahwa petugas di Puskesmas Kecamatan Senen akan terus melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap pasien kontak erat tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close