Ntvnews.id
“Iya, jadi kita tetap fokus ke kegiatan produksi. Kita upayakan target 2026 bisa tercapai, tapi yang paling penting adalah dengan cara yang aman, selamat, dan berkelanjutan,” ujar Tony Wenas di Jakarta, Jumat 10 April 2026.
Terkait kenaikan harga energi seperti bahan bakar minyak (BBM) global, ia menyebut perusahaan telah menyiapkan langkah mitigasi dengan menitikberatkan pada aspek yang dapat dikendalikan, terutama operasional di dalam negeri.
Baca Juga: Terpopuler: Kejati DKI Geledah Kantor Kementerian PU, Prabowo Soal Impor BBM
“Kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Situasi geopolitik memang tidak bisa kita kendalikan. Jadi kita antisipasi dan mitigasi, tapi fokus utama tetap pada operasi tambang yang aman dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga mengakui kenaikan harga energi berdampak pada biaya operasional, sehingga perusahaan berupaya menekan biaya seminimal mungkin.
“Ada harga yang naik memang tidak bisa dihindari. Kita berusaha memitigasi dan menekan cost serendah mungkin,” tambah Tony Wenas.
Lebih lanjut, Tony menyampaikan bahwa tingkat produksi tambang pasca-insiden longsor di area Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 kini telah mencapai sekitar 40 hingga 50 persen.
Baca Juga:Prabowo Targetkan Indonesia Stop Impor BBM dalam 2–3 Tahun
PT Freeport Indonesia menargetkan operasional tambang dapat kembali mendekati 100 persen pada akhir 2026, dan mencapai kapasitas produksi penuh pada awal kuartal 2027.
Menurutnya, berbagai upaya terus dilakukan untuk memastikan operasional berjalan aman dan berkelanjutan, terlepas dari fluktuasi harga komoditas global seperti minyak, emas, maupun tembaga.
“Kita fokus kepada produksi yang selamat, aman, dan berkelanjutan,” tegasnya.
(Sumber: Antara)
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Budi Prasetyo memberikan keterangan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Rio Feisal/am. (Antara)