Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memastikan belum berencana menaikkan target pertumbuhan kredit pada 2026. Perseroan tetap mengacu pada kisaran 7–9 persen, meskipun regulator mendorong industri perbankan untuk membidik ekspansi kredit yang lebih tinggi.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyampaikan hal tersebut usai Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 18 Februari 2026. Ia menegaskan target yang dijalankan saat ini masih sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) yang telah disampaikan pada Desember 2025.
“Jadi kita teruskan saja dengan RBB yang ada sekarang. Nanti Juni mungkin baru kita lihat perkembangannya untuk revisi atau tidak,” kata Riduan.
Meski demikian, manajemen membuka peluang evaluasi setelah melihat perkembangan penyaluran kredit hingga semester pertama tahun ini. Riduan juga menekankan bahwa perseroan tetap berupaya melampaui target yang telah ditetapkan dalam RBB.
Dari sisi kinerja, hingga akhir Desember 2025 total kredit Bank Mandiri tercatat Rp1.895,0 triliun atau tumbuh 13,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut disebut terjadi secara merata di berbagai segmen bisnis.
Baca Juga: Bank Mandiri Dorong Penguatan Link and Match Pendidikan juga Industri
Kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 0,96 persen pada akhir 2025, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri dan menunjukkan tren perbaikan bertahap.
Untuk penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp2.105,8 triliun atau tumbuh 23,9 persen yoy. Komposisi pendanaan dinilai solid, dengan dana murah (CASA) meningkat 12,6 persen yoy menjadi Rp1.431,4 triliun.
Dari sisi laba, Bank Mandiri membukukan keuntungan tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp56,3 triliun sepanjang 2025.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 bisa mencapai 10–12 persen yoy, dengan dukungan pertumbuhan DPK sebesar 7–9 persen yoy.
Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan optimisme terhadap target tersebut. OJK akan mendorong peningkatan kinerja perbankan melalui pendekatan individual kepada masing-masing bank.
Baca Juga: Optimalisasi Struktur Keuangan, Bank Mandiri Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah
“Negosiasi terkait pertumbuhan kredit contohnya di masing-masing RBB bank itu masih terus diupayakan sekarang. Ada negosiasi yang lebih tinggi. Itu untuk semua jenis kredit, termasuk korporasi dan lain sebagainya,” kata dia.
Dian menambahkan bahwa peningkatan kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi perhatian utama, terutama karena pertumbuhannya dinilai belum optimal. OJK pun menjalankan strategi yang lebih menyeluruh, tidak hanya mendorong kenaikan volume kredit, tetapi juga menjaga kualitasnya.
“Di daerah, kita juga melakukan banyak hal. Kantor-kantor OJK sekarang banyak melakukan langkah-langkah untuk bagaimana menemukan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di daerah, yang kemudian itu bisa dibiayai dengan kredit UMKM,” kata Dian.
Secara industri, kredit perbankan nasional per akhir Desember 2025 tercatat tumbuh 9,63 persen yoy menjadi Rp8.586 triliun. DPK industri juga meningkat 13,83 persen yoy menjadi Rp10.059 triliun, dengan pertumbuhan giro 19,13 persen, deposito 14,28 persen, dan tabungan 8,19 persen yoy.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Gedung Menara Mandiri di Jakarta. (ANTARA/HO-Bank Mandiri) (Antara)