IHSG Ambruk ke Bawah 5.000, Ini Penjelasan Bos OJK

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 20:45
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus di bawah level 5.000. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus di bawah level 5.000. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus di bawah level 5.000.

IHSG ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. IHSG terkoreksi 192,543 poin atau 3,78 perrsen ke level 4.904.

Friderica menyebut perlemahan ini tidak terlepas dari berbagai faktor baik domestik maupun global, salah satunya adalah reformasi struktural yang tengah dilakukan di pasar modal Indonesia.

"Saat ini kami melakukan reformasi yang disebut reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal. Tentunya akan ada, ya kita sudah melihat konsekuensinya," ucap Friderica, Selasa 3 November 2026.

Baca juga: OJK Ungkap Nama Pelaku Goreng Saham di Bursa, Ini Daftarnya

Dalam hal ini, Friderica mengibaratkan proses reformasi tersebut seperti detoksifikasi untuk mengeluarkan hal-hal yang tidak sehat dari pasar modal.

"Ini seperti mungkin kayak detoks, gitu ya. Kalau mengeluarkan yang enggak bagus-bagus dan lainnya, mungkin akan sangat akan tercermin di kondisi IHSG saat ini," lanjutnya.

Di sisi lain, Friderica menyebut kondisi global juga turut memengaruhi pergerakan IHSG. 

Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain dinamika geopolitik global, tekanan inflasi, serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.

Meski demikian, dia meminta agar kondisi pasar modal tidak hanya dinilai dari pergerakan indeks. Menurutnya, fundamental emiten dan aktivitas penghimpunan dana di pasar modal masih menunjukkan kinerja positif.

Menurutnya kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan kuartal II 2026 masih sangat baik. Selain itu, minat korporasi domestik untuk menghimpun dana melalui pasar modal juga tetap tinggi.

Baca juga: OJK Denda Sinar Mas Tunggal Rp1,5 T terkait Kasus Saham DSSA, Ini Daftar Sekuritas yang Ikut Disanksi

Hingga Oktober 2026, penghimpunan dana di pasar modal tercatat mencapai Rp205,77 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari tujuh penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), 20 penawaran umum terbatas, 11 penawaran umum efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta 135 penawaran umum berkelanjutan EBUS.

OJK juga mencatat masih terdapat 25 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif sekitar Rp26 triliun.

Adapun target penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp250 triliun hingga akhir tahun.