Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank OCBC NISP Tbk memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,2% sepanjang 2026. Konsumsi rumah tangga dan investasi domestik diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Chief Economist & Head OCBC Group Research Selena Ling mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat karena ditopang permintaan domestik. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II 2026.
Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,1% YoY, sedangkan investasi meningkat 6,9% YoY pada periode yang sama.
“Indonesia tetap memiliki fondasi pertumbuhan yang ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2% pada tahun 2026. Pengembangan industri dan infrastruktur digital juga menghadirkan peluang jangka panjang. Para investor perlu memantau inflasi AS, arah suku bunga, serta risiko geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal dan biaya pendanaan,” ujarnya dalam media briefing OCBC Outlook bertajuk ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Selain Indonesia, sejumlah negara ASEAN juga menunjukkan prospek pertumbuhan yang menarik. Vietnam mencatatkan pertumbuhan 9,95%, Singapura 5,4%, dan Malaysia 5,3% pada kuartal III 2026.
Perusahaan melihat peluang investasi di kawasan ASEAN berasal dari sektor yang beragam. Vietnam memiliki potensi pada industri manufaktur, Malaysia dan Singapura pada sektor elektronik serta infrastruktur digital, sementara Indonesia memiliki peluang dari pasar domestik dan pengembangan industri.
Di Indonesia, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp480 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Pengembangan sektor tersebut berpotensi mendorong kebutuhan fasilitas industri, logistik, transportasi, dan energi. Selain itu, investasi pada infrastruktur digital seperti pusat data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi peluang jangka panjang.
Baca Juga: Kenapa Tagihan Listrik Tiba-Tiba Membengkak? Ini Penyebabnya
Meski demikian, investor perlu mencermati sejumlah risiko eksternal, terutama inflasi Amerika Serikat, kebijakan suku bunga The Federal Reserve, ketegangan geopolitik, dan pergerakan harga energi yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah serta biaya pendanaan.
Wealth Management Advisory Head OCBC in Indonesia Diamond Stole mengatakan, peluang pertumbuhan Indonesia dan ASEAN perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan serta strategi investasi yang adaptif.
“Kami melihat potensi pertumbuhan Indonesia dan ASEAN sebagai peluang jangka panjang bagi nasabah untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan (wealth management). Kesiapan untuk menangkap peluang tersebut perlu dibangun sejak sekarang, melalui perencanaan yang matang dan strategi yang dapat beradaptasi seiring perubahan kebutuhan maupun kondisi pasar,” ujarnya.
Menurutnya, investor perlu memperhatikan likuiditas, profil risiko, jangka waktu investasi, serta tujuan finansial sebelum menentukan alokasi aset. Diversifikasi portofolio juga penting untuk mengurangi konsentrasi investasi pada kelas aset, sektor, pasar, maupun mata uang tertentu.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, perusahaan mencatatkan pertumbuhan bisnis wealth management. Hingga Juni 2026, total aset kelolaan atau Asset Under Management (AUM) mencapai sekitar Rp374 triliun, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melalui layanan digital dan pendampingan personal, perusahaan menyediakan berbagai solusi pengelolaan kekayaan, mulai dari reksa dana, obligasi, bancassurance, hingga tabungan emas.
OCBC menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dan ASEAN masih membuka peluang investasi jangka panjang. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko pasar dan melakukan evaluasi portofolio secara berkala agar strategi investasi sesuai dengan kondisi ekonomi dan tujuan finansial.
Diamond Stole, Wealth Management Advisory Head, OCBC dan Selena Ling, Chief Economist & Head, OCBC Group Research (NTVNews.id/Dedi)