Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memfokuskan strategi percepatan transformasi ekonomi nasional pada dua pilar utama, yakni penguatan kinerja badan usaha milik negara (BUMN) serta pengembangan sektor industri berbasis teknologi tinggi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa restrukturisasi BUMN merupakan fondasi krusial dalam menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dalam praktiknya, Danantara menerapkan peta jalan transformasi berdurasi lima tahun yang berfokus pada konsolidasi perusahaan, perbaikan tata kelola sumber daya manusia dan budaya korporasi, integrasi teknologi, serta penciptaan nilai tambah (value creation).
“Melalui konsolidasi, restrukturisasi, penguatan sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi, kami ingin meningkatkan kinerja perusahaan sehingga mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian Indonesia,” ujar Dony dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Sebagai contoh nyata, transformasi tersebut saat ini mulai diimplementasikan pada sektor pengelolaan bandar udara melalui peningkatan standar pengalaman penumpang (passenger experience) serta optimalisasi diversifikasi pendapatan di luar sektor aeronautika (non-aeronautical revenue). Danantara juga memandang kekuatan finansial BUMN sebagai motor penggerak untuk menghasilkan laba yang nantinya dapat diinvestasikan kembali demi pembangunan nasional.
Sementara itu, dari sudut pandang pengembangan sektor industri, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menekankan bahwa inovasi dan penguasaan teknologi adalah kunci utama dalam mendongkrak daya saing bangsa di kancah global.
Sigit memaparkan bahwa strategi penguatan industri nasional bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu meningkatkan kompleksitas industri, memperdalam kapabilitas domestik, serta membangun skala bisnis yang kompetitif di tingkat internasional. Hal ini dilakukan dengan memperkuat rantai pasok lokal mulai dari tahap desain, riset dan pengembangan (R&D), hingga hilirisasi produksi massal.
“Kita perlu meningkatkan kemampuan industri, mulai dari desain, riset dan pengembangan, hingga produksi massal, sehingga Indonesia dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami mengembangkan proyek-proyek di sejumlah klaster industri prioritas untuk memperkuat kapasitas nasional dan membangun industri yang lebih kompetitif,” pungkas Sigit.
(Sumber: Antara)
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria. (Antara)