Perluas Lapangan Kerja, Danantara Kaji Dua Skema Investasi Tekstil

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Okt 2026, 17:20
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia saat ini tengah mengkaji dua opsi strategis dalam berinvestasi pada sektor industri tekstil, yakni melalui skema akuisisi perusahaan yang sudah beroperasi atau membangun fasilitas pabrik baru dari nol. Langkah ini diambil guna memperluas penciptaan lapangan kerja serta memperkuat fondasi industri padat karya di tanah air.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan rencana tersebut seusai menyampaikan paparan dalam ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung di Jakarta, pada hari Senin, 26 Oktober 2026.

“Pilihannya kan pada dasarnya membangun perusahaan itu ada yang kita akuisisi, ada yang kita bangun dari nol, ya,” ujar Dony.

Ia merinci bahwa opsi akuisisi dapat ditujukan kepada perusahaan-perusahaan yang sudah ada di pasaran, termasuk entitas bisnis yang tengah menghadapi tekanan usaha dan berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja atau menghentikan aktivitas produksinya. Menurutnya, proses pengambilalihan ini nantinya harus dibarengi dengan pembenahan model bisnis secara menyeluruh agar kegiatan operasional perusahaan menjadi lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.
 

Sementara itu, alternatif pembangunan pabrik baru (greenfield investment) tetap menjadi opsi lain yang dikaji secara mendalam untuk mendongkrak kapasitas produksi industri tekstil nasional.

Kendati demikian, ketika disinggung mengenai peluang pengambilalihan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Dony belum dapat memberikan kepastian karena proses evaluasi komprehensif masih berjalan hingga saat ini.

“Ya, kita sedang melakukan evaluasi. Ya mudah-mudahan nanti akan. Teman-teman akan lihat. Kan semua akan terbuka,” ungkap dia.

Ia menegaskan bahwa aspek penyerapan dan perlindungan tenaga kerja merupakan salah satu pertimbangan utama yang mendasari keputusan Danantara dalam menentukan arah investasi di sektor padat karya.

“Karena itu Danantara serius akan masuk ke sektor ini,” tegasnya.

Selain industri tekstil, Danantara juga membidik sektor alas kaki dan elektronik sebagai lini investasi strategis berikutnya, mengingat kedua sektor tersebut dinilai memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi serta memberikan multiplier effect yang luas bagi perekonomian nasional.

Dony menambahkan, pengembangan industri tekstil yang dirancang Danantara tidak hanya akan berfokus pada produk akhir (downstream), melainkan mencakup penguatan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Nanti begitu kita mulai, kita akan masuk itu di tekstil itu tidak hanya di downstream-nya, tapi mulai dari upstream-nya, midstream-nya, sampai downstream-nya,” ucap Dony.
 

Pengembangan rantai pasok industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir ini dinilai sangat penting untuk memperkuat kemandirian produksi dalam negeri sekaligus mengoptimalkan potensi pasar domestik yang didukung oleh populasi hampir 300 juta jiwa. Kendati demikian, pihak Danantara belum menetapkan besaran pasti alokasi nilai investasi yang akan disiapkan.

“Jumlahnya berapa, tentu tergantung daripada kebutuhannya nanti dalam kita memulai membangun industri tekstil ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pada 24 Oktober 2026 sempat menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian terus berkoordinasi secara intensif dengan Danantara terkait wacana pembentukan BUMN khusus tekstil, termasuk opsi pengambilalihan pabrik atau perusahaan tekstil yang saat ini sudah berhenti berproduksi.

Sarmuji menekankan bahwa kebangkitan industri tekstil nasional harus dibarengi dengan langkah modernisasi mesin-mesin produksi serta penerapan adopsi teknologi terbaru agar perusahaan mampu mendongkrak produktivitas dan bersaing secara kompetitif di pasar global.

Berdasarkan data resmi Kementerian Perindustrian, jumlah tenaga kerja di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diproyeksikan meningkat dari 3,95 juta orang pada tahun 2026 menjadi 4,07 juta orang pada tahun 2029 mendatang, yang berarti ada penambahan sekitar 120 ribu tenaga kerja.
 

Kinerja sektor manufaktur ini juga menunjukkan tren pemulihan yang positif. Kementerian Perindustrian mencatat industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh sebesar 6,36 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II 2026, sementara sektor industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki melesat lebih tinggi hingga 11,30 persen pada periode yang sama.

Dari sisi perdagangan luar negeri, total nilai ekspor produk industri tekstil dan pakaian jadi sepanjang kurun waktu Januari hingga Juli 2026 telah mencatatkan angka sebesar 7,18 miliar dolar AS, atau setara dengan kisaran Rp129,74 triliun.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close