Trump Tunjuk Bos Intelijen AS Pimpin Strategi AI, Targetnya Kalahkan China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Okt 2026, 11:10
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Jay Clayton dipercaya memimpin Super Intelligence Force (SIF) atau Pasukan Kecerdasan Super yang baru dibentuk pemerintahan Donald Trump. (Foto: Reuters) Jay Clayton dipercaya memimpin Super Intelligence Force (SIF) atau Pasukan Kecerdasan Super yang baru dibentuk pemerintahan Donald Trump. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunjuk Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton untuk memimpin koordinasi strategi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pemerintah AS.

Clayton dipercaya memimpin Super Intelligence Force (SIF) atau Pasukan Kecerdasan Super yang baru dibentuk pemerintahan Trump.

Tim ini bertugas mengoordinasikan berbagai upaya pemerintah untuk memastikan AS tetap berada di garis depan perkembangan teknologi AI.

Trump menyampaikan penunjukan tersebut melalui unggahan di platform Truth Social.

Dia menyebut SIF dibentuk untuk memastikan Amerika Serikat terus memimpin dunia dalam pengembangan "super intelligence", sekaligus melindungi kepentingan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Negara Paman Sam tersebut.

Penunjukan Clayton sekaligus mengonfirmasi laporan The Wall Street Journal. Sebelumnya, Clayton yang baru ditunjuk sebagai direktur intelijen nasional pada Agustus 2026, mengatakan kepada media tersebut bahwa Trump telah memintanya memimpin upaya pemerintah mempertahankan posisi AS sebagai negara terdepan dalam teknologi AI.

"Risiko tidak menjadi yang pertama sangat tinggi," ujar Clayton, seperti dikutip dari Reuters, Senin (5/10/2026)

Clayton Diberi Waktu 120 Hari

Clayton dan timnya diberi waktu 120 hari untuk menyusun laporan mengenai risiko dan peluang yang ditimbulkan oleh perkembangan AI.

Laporan tersebut juga akan memuat rekomendasi mengenai peran yang seharusnya dimainkan pemerintah federal dalam menghadapi perkembangan teknologi AI, termasuk bagaimana memperkuat kemampuan pemerintah dalam merespons berbagai risiko yang muncul.

Salah satu perhatian utama adalah keamanan AI. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah peneliti memperingatkan potensi risiko serius dari perkembangan teknologi tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menilai AI berpotensi menimbulkan ancaman terhadap manusia dalam satu dekade mendatang.

Isu keamanan AI turut mendapat perhatian anggota parlemen AS dari Partai Republik maupun Demokrat yang menyerukan langkah lebih lanjut untuk menghadapi potensi risiko tersebut.

Baca Juga: Trump Perintahkan Istilah AI Diganti Menjadi Super Intelligence

Trump Soroti Persaingan AI dengan China

Di sisi lain, Trump selama ini cenderung mendorong pendekatan yang tidak terlalu ketat terhadap regulasi AI. Dia menilai regulasi berlebihan dapat mengurangi daya saing AS dalam menghadapi China.

Trump bahkan mengatakan dirinya tidak ingin bekerja sama dengan Presiden China Xi Jinping dalam mengatur teknologi AI.

Berdasarkan piagam gugus tugas yang dikutip The Wall Street Journal, panel yang dipimpin Clayton juga akan mengevaluasi risiko AI serta mekanisme pelaporan pemerintah terkait pelanggaran, peretasan, dan berbagai insiden lainnya.

Tim tersebut nantinya akan memberikan rekomendasi untuk memperkuat kemampuan respons pemerintah federal dengan memanfaatkan kewenangan yang sudah tersedia.

Trump Kembali Bentuk Tim Khusus AI

Penunjukan Clayton menjadi langkah terbaru Trump dalam memperkuat koordinasi kebijakan AI di pemerintahannya. Ini merupakan kali kedua Trump menunjuk pejabat khusus untuk mengawasi keputusan terkait AI di berbagai lembaga pemerintah.

Sebelumnya, investor modal ventura David Sacks dipercaya menjalankan peran sebagai "AI czar" pada awal periode kedua pemerintahan Trump.

Selain Clayton, jajaran pimpinan SIF akan mencakup Ketua Komisi Perdagangan Federal (FTC) Andrew Ferguson, Kepala Teknologi Pentagon Emil Michael, serta Direktur Kantor Manajemen Personalia Scott Kupor.

Trump mengatakan tim tersebut akan berinteraksi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, kelompok keagamaan, perusahaan teknologi AI hingga pemangku kepentingan lainnya.

SIF akan bertanggung jawab langsung kepada Trump dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.

x|close