PM Kanada Akui Siapkan Negara Hadapi Risiko Invasi AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Okt 2026, 07:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Mark Carney Mark Carney (AFP)

Ntvnews.id, Ottawa - Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah mempersiapkan negara tersebut selama setahun terakhir untuk menghadapi kemungkinan ancaman invasi dari Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan The New York Times pekan ini, Carney menyebut kemungkinan AS menginvasi Kanada sebagai "risiko ekstrem", meskipun peluang terjadinya dinilai sangat kecil.

Menurut Carney, "dampaknya sangat besar" apabila Presiden AS Donald Trump sampai memerintahkan operasi militer terhadap Kanada. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah hubungan Ottawa dan Washington yang semakin renggang, terutama sejak Trump kembali memimpin AS untuk periode kedua.

Saat ditanya mengenai keseriusannya menanggapi pernyataan Trump yang ingin menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS, Carney mengisyaratkan bahwa pemerintah Kanada telah mempertimbangkan secara serius kemungkinan terjadinya invasi militer.

Namun, Carney tidak membeberkan secara spesifik langkah-langkah yang telah disiapkan pemerintah Kanada untuk menghadapi skenario tersebut.

"Saya pikir dalam posisi seperti ini, Anda memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan risiko ekstrem meski yang kemungkinan terjadinya sangat kecil," kata Carney.

Baca Juga: Mark Carney Resmi Dilantik Jadi Perdana Menteri Kanada yang Baru!

Sebagai mantan bankir sentral Inggris dan Kanada, Carney terbiasa menghadapi berbagai kondisi dengan memperhitungkan skenario terburuk sekaligus menyiapkan langkah antisipasinya.

"Itu hanya manajemen risiko. Itu bukan skenario utama yang kami perkirakan, tetapi tidak mempersiapkannya akan menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab," paparnya menambahkan.

Dalam wawancara panjang dengan The New York Times di kantornya di kawasan Midtown Manhattan pada Rabu, Carney juga menjelaskan langkah pemerintahannya mengurangi ketergantungan Kanada terhadap AS, khususnya dalam sektor teknologi strategis, mulai dari satelit hingga jet tempur.

Menurutnya, langkah tersebut ditempuh agar Kanada memiliki ketahanan yang lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh potensi ancaman dari negara tetangganya.

Carney juga mengungkapkan rencana Kanada untuk memperluas hubungan dengan negara lain sekaligus melakukan diversifikasi pemasok. Ia menilai langkah tersebut pada akhirnya akan membuat hubungan Ottawa dengan Washington tetap kuat.

Bahkan jika AS nantinya dipimpin presiden yang berbeda, Carney mengatakan "kami akan menjadi mitra yang lebih baik bagi AS karena apa yang sedang kami lakukan."

Meski hubungan kedua negara tengah menghadapi berbagai persoalan, Carney memastikan dirinya masih "sering" berbicara dengan Trump. Komunikasi tersebut tetap berlangsung meski perundingan perdagangan AS-Kanada runtuh bulan lalu setelah Trump menerapkan kebijakan tarif.

Dalam satu tahun terakhir, Carney menjadi salah satu pemimpin negara yang paling vokal dalam merespons ketidakpastian kebijakan Trump.

Sejumlah pemimpin negara lain juga menjadikan pendekatan Carney sebagai contoh dalam menghadapi Amerika Serikat yang dinilai semakin sulit diprediksi dan diandalkan.

Namun, hanya sedikit pemimpin yang menyampaikan sikapnya terhadap Washington secara terbuka seperti Carney.

Dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss, awal tahun ini, Carney bahkan secara terbuka menjelaskan strategi Kanada menghadapi memburuknya hubungan dengan AS.

"Anda bisa sepenuhnya menarik diri ke dalam diri sendiri, atau Anda melakukan diversifikasi," katanya ketika itu.

Carney juga menjelaskan cara dirinya menjaga komunikasi dengan Trump selama pemerintahan AS berada di bawah kepemimpinannya.

"Dari sudut pandang saya, kami memiliki hubungan yang baik dalam arti bahwa kami bisa mengangkat telepon dan berbicara satu sama lain mengenai berbagai persoalan," katanya pada Rabu.

"Dia (Trump) orangnya langsung. Saya juga langsung dalam menyampaikan posisi saya. Dengan begitu, semuanya jauh lebih efisien. Jadi, hubungan itu ada dan akan terus ada."

Pada 2025, Trump pernah mengatakan bahwa kemungkinan AS menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Kanada sangat kecil. Sebaliknya, dia menyatakan akan mengandalkan tekanan ekonomi untuk mencapai kepentingan politiknya.

Namun, setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari 2026, hasil survei Leger menunjukkan lebih dari 30 persen warga Kanada menilai kemungkinan invasi AS terhadap negara mereka dapat terjadi.

Meski peluang invasi tersebut dinilai sangat rendah, profesor madya bidang keamanan nasional University of New Haven, Connecticut, Matthew Schmidt, mengatakan keputusan Kanada mempersiapkan diri menghadapi ancaman AS menunjukkan perubahan besar dalam tatanan global.

Menurut Schmidt, para pemimpin Kanada memang perlu memperhitungkan masa depan hubungan dengan AS, yang merupakan negara tetangga sekaligus sekutu tradisional Ottawa.

Ia menilai salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kerja sama pertahanan Kanada-AS. Kemitraan tersebut berpotensi dimanfaatkan Washington apabila suatu saat mengambil kebijakan yang merugikan Ottawa.

"Hal itu benar-benar merusak hubungan dengan Amerika Serikat, dan ada sejumlah ketakutan yang memang beralasan," katanya.

Schmidt menilai masyarakat Amerika Serikat mungkin tidak terlalu menganggap serius pernyataan Trump mengenai keinginannya menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51. Namun, masyarakat Kanada memiliki pandangan berbeda dan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

TERKINI

PM Kanada Akui Siapkan Negara Hadapi Risiko Invasi AS

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 07:30 WIB

Pemilu Brasil Dimulai, Lula dan Flavio Bolsonaro Bersaing Ketat

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 07:15 WIB

Wajah Kota Global Itu Ada di Dalam Gerbong MRT

Nasional Senin, 5 Okt 2026 | 06:55 WIB

Rusia Minta Diplomat Asing Tinggalkan Ibu Kota Ukraina

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 06:50 WIB

Korut Uji Rudal Jarak Menengah Berteknologi AI

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 06:35 WIB

PM Jepang Marah ke AS Usai Marinir Diduga Bunuh Perempuan

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 06:10 WIB

Kebakaran Di Machu Picchu Tewaskan Satu Orang

Luar Negeri Senin, 5 Okt 2026 | 06:08 WIB
Load More
x|close