Prediksi Harga Minyak Dunia Pekan Depan di Tengah Tekanan Geopolitik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Sep 2026, 18:10
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang sedang berlabuh di Teluk Oman, di lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang krusial Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang sedang berlabuh di Teluk Oman, di lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang krusial (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Harga minyak mentah dunia diproyeksikan masih berpeluang berada di atas level USD100 per barel pada pekan depan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak mentah jenis Crude Oil (WTI) bergerak dalam rentang USD87,60 hingga USD100,10 per barel.

"Untuk oil sendiri, WTI crude oil kemungkinan dalam pekan depan itu di USD87,60, kemudian resistennya adalah USD100,10 per barel," ucap Ibrahim dalam kajiannya, Minggu 27 September 2026.

"Jadi ada kemungkinan besar masih akan di atas USD100 per barel untuk WTI crude oil," lanjutnya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus USD102,50 per Barel Pekan Depan, Ini Biang Keroknya

Menurutnya faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia adalah perkembangan geopolitik.

Menurutnya konflik antara Iran, AS, dan Israel kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menolak ajakan Presiden Iran dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.

"Konflik antara Iran dan Amerika, serta dengan Israel, ini pun juga kembali memanas setelah Trump menolak ajakan Presiden Iran pada saat sidang di PBB untuk melakukan gencetan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Dan Trump mengindikasikan tidak akan membuka jalur Selat Hormuz di Laut Merah," ungkap Ibrahim.

Baca juga: Pasokan Minyak Dunia Menipis, Ancaman Krisis BBM Makin Nyata

Selain Timur Tengah, perkembangan perang Rusia-Ukraina juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar minyak.

Ibrahim menyebut terdapat kemungkinan Rusia dan Ukraina melakukan pertemuan yang diprakarsai oleh Uni Emirat Arab.

Namun, perang yang telah berlangsung sekitar 4,5 tahun tersebut masih memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi di kawasan Eropa Timur.

Di sisi energi, serangan Ukraina menggunakan drone dan misil jarak jauh disebut turut berdampak terhadap sejumlah kilang minyak Rusia.

"Produksi minyak di Rusia sendiri pun juga sedikit mengalami penurunan akibat serangan yang dilakukan oleh Ukraina berupa drone dan misil-misil jarak jauh. ini membuat kilang-kilang minyak di Rusia ini mengalami penghentian sementara," jelasnya.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi USD89,43 per Barel

Menurutnya penurunan produksi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap pasokan minyak mentah dunia.

"Ini pun juga membuat produksi minyak Rusia ini mengalami penurunan dan berdampak terhadap naikan harga minyak mentah dunia," tandasnya.

x|close