Ntvnews.id, Jakarta - PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) (DSI) resmi beroperasi sejak 1 Juni 2026 dan mulai menjalankan mandatnya pada tiga komoditas strategis diantaranya batu bara, minyak sawit atau crude palm oil (CPO), dan ferroalloy.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan DSI dibentuk untuk mendorong pengelolaan ekspor komoditas strategis agar berjalan lebih baik, transparan, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
"PT DSI inimulai berjalan sejak 1 Juni, secara akte 1 Juni dan dalam perannya tentunya kita inginkan ini dikelola secara lebih baik, transparan dan juga memberikan nilai tambah tidak hanya kepada sumber daya manusia kita, kepada sumber daya alam kita, tapi juga kepada perekonomian Indonesia secara keseluruhan," ucap Rosan, Senin 24 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan DSI lebih berperan dalam melakukan evaluasi dan pemantauan transaksi ekspor. Salah satu fokus utamanya adalah memastikan transparansi dalam setiap transaksi.
Baca juga: Danantara Kawal Ketat Restrukturisasi WIKA dengan Laporan Keuangan Sesuai Kondisi Riil
"DSI ini kita lebih pada saat ini mememang evaluasi, memonitoring, dan juga memastikan bahwa yang paling penting adalah transparency of the transaction. Itu yang paling penting buat kita sehingga semuanya ini juga berjalan dan berjalan dengan baik dan benar," ungkapnya.
Adapun nilai ekspor dari tiga komoditas strategis tersebut mencapai hampir USD70 miliar dimana nilai ekspor batu bara tercatat sekitar USD30,35 miliar, CPO sekitar USD22,67 miliar, sedangkan ferroalloy sekitar USD16,43 miliar.
Kendati demikian, Rosan menegaskan DSI tidak dibentuk untuk menambah lapisan birokrasi maupun mengambil alih fungsi regulator.
Ia menambahkan, fungsi perizinan, pengaturan, dan pengawasan tetap menjadi kewenangan kementerian dan lembaga terkait.
Baca juga: Danantara Siapkan Merger dan Restrukturisasi PT PP
"DSI ini bukan tujuannya menambah lapisan birokrasi, atau bukan pula menggantikan peran dari regulator," jelas Rosan.
"Peran DSI adalah membangun satu titik verifikasi yang lebih kuat dan aliran data dan transaksi ekspor mencapuk kualitas, kualitas, klasifikasi barang, harga, hingga penyelesaian pembayaran," tandasnya.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani