BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi 2026 Tetap di Kisaran 4,9–5,7 Persen Meski BI-Rate Naik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Mei 2026, 19:15
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (20/5/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (20/5/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tetap berada dalam kisaran proyeksi, yakni 4,9–5,7 persen, meskipun suku bunga acuan BI-Rate dinaikkan sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa penetapan BI-Rate selalu mempertimbangkan keseimbangan antara pengendalian inflasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam mengukur takaran berapa BI-Rate naik, tentu saja kami mempertimbangkan pertumbuhan, bagaimana pertimbangan yang seimbang antara pengendalian inflasi sesuai sasaran dan dampak yang tentu saja tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa kebijakan moneter tersebut juga dilakukan dengan koordinasi erat bersama pemerintah, khususnya dalam kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.

“Kami tegaskan bahwa dalam mengukur BI-Rate 50 bps, kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi dalam sasaran dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada dalam kisaran sasaran 4,9 sampai 5,7 persen,” ujarnya.

Terkait inflasi, Perry menyampaikan bahwa BI terus mencermati perkembangan harga domestik, termasuk dampak kenaikan harga minyak dan komoditas global yang dapat memicu kenaikan harga barang impor.

Baca Juga: Bank Indonesia dan Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

Ia menilai tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh imported inflation akibat ketergantungan Indonesia pada bahan baku dari luar negeri, serta penyesuaian harga energi non-subsidi.

Karena itu, kenaikan BI-Rate tidak hanya ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga untuk memastikan inflasi 2026–2027 tetap berada dalam target 2,5 persen ±1 persen (1,5–3,5 persen).

BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) untuk menjaga inflasi volatile food serta meredam dampak kenaikan harga global.

“Itulah kenapa kenaikan BI-Rate 50 bps ini kami meyakini mampu membawa perkiraan inflasi 2026-2027 akan berada tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah,” kata Perry.

Baca Juga: Bank Indonesia Catat Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.658 Triliun pada Kuartal I 2026

Di tengah ketidakpastian global, BI menilai momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga melalui optimalisasi belanja pemerintah yang didukung bauran kebijakan bank sentral, termasuk pelonggaran kebijakan makroprudensial serta sistem pembayaran untuk mendukung ekonomi digital dan inklusi keuangan.

Dalam RDG Mei 2026, BI resmi menaikkan BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25 persen, sedangkan lending facility menjadi 6 persen.

Kebijakan ini menjadi penyesuaian pertama setelah BI mempertahankan suku bunga di 4,75 persen sejak September 2025, setelah sebelumnya melakukan lima kali pemangkasan sepanjang 2025 dengan total penurunan 125 bps.

(Sumber: Antara)

x|close