Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Warga yang Diduga Dukung Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Apr 2026, 07:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi pasport Ilustrasi pasport (Pixabay)

Ntvnews.id, Manama - Pemerintah Bahrain mencabut kewarganegaraan sebanyak 69 orang yang dituding memiliki hubungan dan dukungan terhadap Iran.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 April 2026, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan keputusan tersebut setelah puluhan orang itu diduga bersimpati kepada Iran serta melakukan berkolusi dengan pihak asing.

Kebijakan ini diambil setelah Teheran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas di Bahrain dalam rangkaian konflik yang dipicu perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.

Keputusan yang ditetapkan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa menyebut seluruh 69 orang tersebut "berasal dari keturunan non-Bahrain".

Berdasarkan aturan hukum di Bahrain, kewarganegaraan dapat dicabut apabila seseorang dianggap membahayakan negara atau menunjukkan ketidaksetiaan terhadap pemerintah.

Organisasi Bahrain Institute for Rights and Democracy yang berbasis di London mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan "berbahaya" serta bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

Baca Juga: Dean James dan Go Ahead Eagles Bebas dari Sanksi di Kasus Paspor

Lembaga itu juga mengungkapkan bahwa identitas 69 orang tersebut tidak dipublikasikan. Selain itu, belum diketahui apakah mereka telah ditahan, berada di dalam atau luar negeri, maupun memiliki kewarganegaraan lain.

Bahrain diketahui memiliki populasi Muslim Syiah yang cukup besar. Selama bertahun-tahun, sebagian komunitas Syiah di negara itu menuding pemerintah melakukan diskriminasi dan meminggirkan mereka.

Ketegangan politik di Bahrain sempat memuncak saat gelombang Arab Spring pada 2011, ketika demonstrasi besar menentang pemerintahan pecah di berbagai wilayah.

Pemerintah Bahrain selama ini juga kerap menuding Iran berada di balik upaya memicu instabilitas di dalam negeri.

Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Di sisi lain, Iran memang mulai menyerang sejumlah negara Arab sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya sejak 28 Februari lalu.

Teheran menuduh negara-negara Arab tersebut telah memberikan akses bagi militer AS untuk menggunakan wilayah mereka dalam melancarkan operasi serangan. Beberapa negara sasaran Iran diketahui menjadi lokasi pangkalan dan fasilitas militer Amerika Serikat.

Serangan balasan Iran dilaporkan mengakibatkan kerusakan cukup besar terhadap fasilitas militer AS di kawasan, termasuk pangkalan angkatan laut di Bahrain yang disebut terkena hantaman rudal dan drone.

Iran kemudian menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk pada 9 April setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai diberlakukan.

x|close