PBB: Perang AS-Israel vs Iran Berisiko Buat 32 Juta Orang Jatuh Miskin

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Apr 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id, New York - Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu lonjakan harga energi dan pupuk global. Kondisi tersebut diperkirakan dapat mendorong sekitar 32 juta orang di 160 negara jatuh ke jurang kemiskinan.

"Ini adalah pembangunan terbalik," ujar Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP), Alexander De Croo, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 30 APril 2026.

"Butuh waktu puluhan tahun untuk membangun masyarakat yang stabil, untuk mengembangkan ekonomi lokal, dan hanya butuh beberapa minggu perang untuk menghancurkannya," tambahnya.

De Croo menjelaskan pihaknya telah melakukan kajian setelah perang berlangsung selama enam minggu. Berdasarkan hasil studi tersebut, dampak ekonomi konflik diperkirakan akan sangat luas meski perang berakhir dalam waktu dekat.

"Kami melakukan studi setelah enam minggu perang dan memperkirakan bahwa bahkan jika konflik berakhir pada saat itu, 32 juta orang akan terdorong ke dalam kondisi rentan di 160 negara," kata De Croo.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.275 per Dolar AS, Dipicu Mandeknya Negosiasi AS–Iran

Perang tersebut diketahui turut menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia saat kondisi damai. Negara-negara Teluk juga memiliki peran penting dalam pasokan minyak serta bahan baku produksi pupuk.

Gangguan distribusi dan lonjakan harga energi membuat sejumlah negara di Afrika dan Asia mulai menerapkan langkah penghematan, mulai dari penjatahan bahan bakar hingga pengurangan jam kerja mingguan guna menekan konsumsi energi. Beberapa negara lain juga memilih memangkas pajak bahan bakar untuk meredam dampak terhadap masyarakat.

UNDP menilai negara-negara di kawasan Afrika Sub-Sahara akan menjadi wilayah yang paling terdampak, bersama sejumlah negara Asia seperti Bangladesh dan Kamboja. Negara-negara kepulauan berkembang juga diperkirakan menghadapi tekanan berat akibat krisis tersebut.

Ilustrasi - Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026). /ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Ex <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026). /ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Ex (Antara)

"Biaya energi yang tinggi, kekurangan pupuk, akan berdampak sangat besar dalam beberapa bulan mendatang" pada masyarakat di negara-negara ini," ujar De Croo.

Ia juga mengingatkan potensi munculnya "ketidakstabilan politik dan penurunan pengiriman uang dari luar negeri karena banyak orang yang bekerja di negara-negara Teluk mengirim uang ke rumah".

Untuk menekan risiko kemiskinan yang lebih luas, UNDP memperkirakan dibutuhkan dana sekitar US$6 miliar dalam bentuk subsidi guna membantu kelompok masyarakat paling rentan terhadap lonjakan harga pangan dan energi.

Baca Juga: Cek Fakta: Purbaya Usul MBG Diubah Jadi Bantuan ke Iran, Palestina dan Israel

De Croo mengatakan pembahasan mengenai bantuan tersebut telah dilakukan bersama International Monetary Fund dan World Bank.

"Anda bisa mengatakan bahwa enam miliar dolar itu banyak -- perang itu menelan biaya sembilan miliar dolar per minggu," imbuh dia.

x|close