Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menginstruksikan jajaran stafnya untuk menyiapkan langkah blokade lanjutan terhadap Iran. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan ekonomi, khususnya terhadap sektor ekspor minyak negara tersebut.
Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam beberapa pertemuan terakhir, Trump lebih memilih opsi memperketat pembatasan dibandingkan langkah militer lanjutan. Salah satu fokus utamanya adalah membatasi lalu lintas pelayaran menuju dan dari pelabuhan Iran guna menekan aktivitas perdagangan internasionalnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.275 per Dolar AS, Dipicu Mandeknya Negosiasi AS–Iran
Para pejabat menyebutkan bahwa Trump menilai opsi lain seperti melanjutkan pemboman atau bahkan menarik diri dari konflik justru memiliki risiko yang lebih besar. Oleh karena itu, pendekatan blokade dinilai sebagai langkah strategis yang lebih terkendali namun tetap memberikan tekanan signifikan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya meningkat setelah serangan bersama yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan menargetkan kepentingan AS di kawasan, termasuk di beberapa negara Teluk.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan. Pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April berlangsung, namun belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Baca Juga: Sambut Raja Charles di Gedung Putih, Trump Sebut Inggris Sahabat Terdekat AS
Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata diperpanjang atas permintaan Pakistan sambil menunggu proposal terbaru dari Iran. Namun, pada perkembangan terakhir, ia mengisyaratkan kemungkinan menolak usulan tersebut, terutama setelah Iran mengajukan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya dalam negosiasi.
Langkah blokade ini diperkirakan akan semakin memperketat tekanan terhadap Iran, sekaligus memperpanjang dinamika ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump mengadakan konferensi pers tak lama setelah insiden penembakan di acara White House Correspondents' Dinner di Gedung Putih di Washington, DC, Alerika Serikat, Minggu (25/4/2026). ANTARA/Celal Güneş/Anadolu/pri. (Antara)