Ntvnews.id, Jakarta - Munculnya spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib Bandung melawan Arema FC pada Jumat (24/4/2026) memicu perhatian publik. Spanduk yang dibentangkan di Tribun Utara sejak awal babak kedua hingga pertandingan berakhir itu diduga sebagai bentuk kritik kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Aksi tersebut dikaitkan dengan pernyataan Dedi sebelumnya mengenai bonus untuk pemain Persib Bandung, yang oleh sebagian Bobotoh dinilai berpotensi mengganggu fokus tim di tengah kompetisi.
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi akhirnya angkat bicara. Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosialnya, ia menyampaikan apresiasi atas kritik yang disampaikan lewat spanduk tersebut.
"Asallamulaikum, sampurasun, wilujeng enjing Wargi Jabar dan seluruh warganet di mana pun berada. Teman-teman Bobotoh yang ada di tribun utara GBLA saat pertandingan melawan Arema saya ucapkan terimakasih atas spanduk yang dibentangkan nya yang intinya adalah melarang saya untuk tidak bicara mengenai Persib dan spanduk tersebut saya yakin didasarkan sebuah keinginan agar profesionalisme sepak bola tetap terjaga tanpa tercederai oleh politik," kata Dedi.
Dedi menilai kritik tersebut sebagai bentuk pengingat agar dirinya tidak mencampuri urusan teknis sepak bola secara berlebihan. Ia pun kembali menegaskan bahwa niat awalnya menyampaikan informasi terkait bonus semata-mata dilandasi prinsip transparansi.
Baca Juga: Agen Secret Service Tertembak di Gedung Putih, Trump Berhasil Dievakuasi
Ia kemudian menjelaskan kronologi pemberian bonus yang sempat menjadi sorotan. Menurutnya, informasi itu berawal dari pertemuan antara dirinya, Maruarar Sirait, dan manajemen Persib. Dalam pertemuan tersebut, dibahas target besar Persib untuk meraih gelar juara tiga kali berturut-turut, yang membutuhkan dukungan ekstra.
"Saya sampaikan mengenai apa yang disampaikan di media sosial tentang bonus kepada pemain Persib bandung sebesar Rp1 miliar yang saya menyebut berasal dari Asep Ara Siarait itu bisa saya menyebutnya kepada Bang Ara Sirait dengan kalimat Asep Ata Sirait karena dia sudah lama sekali tinggal di Jawa Barat saat kuliah di Universitas Parahyangan Bandung," ungkapnya.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa bonus tersebut bukan hanya untuk satu pertandingan. Ia menyebut adanya komitmen pemberian bonus untuk beberapa laga tandang.
"Secara spontan Bang Ara menyampaikan akan memberikan bonus pada setiap pertandingan di kandang lawan dari tujuh pertandingan ada lima pertandingan yang akan diberikan bonus masing-masing Rp1 miliar. Jumlah yang diberikan Rp5 miliar untuk lima pertandingan," tuturnya.
Dedi juga menegaskan bahwa sebelum menyampaikan informasi tersebut ke publik, ia telah mengonfirmasi langsung kepada manajemen Persib. Ia memastikan bahwa tidak ada pelanggaran aturan terkait pemberian bonus tersebut.
"Walaupun Bang Ara menyampaikan tidak boleh menyampaikan ke publik, saya sebagai orang yang menjunjung transparansi setiap pengelolaan keuangan saya sampaikan ini harus disamakan kepada publik agar publik mengetahui ada aliran uang yang diberikan sebagai bentuk rasa kecintaan dan tekad agar Persib bisa menjadi juara tiga kali berturut-turut," terangnya.
Meski demikian, polemik yang muncul membuat Dedi memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Ia mengajak semua pihak, khususnya Bobotoh, untuk kembali fokus mendukung performa tim di lapangan.
"Untuk itu, itulah peristiwa yang terjadi, saya sampaikan sudah kita tidak usah bicarakan ini berkelanjutan fokuslah Persib untuk menghadapi pertandingan sebelumnya agar seluruh keinginan juara tiga kalinya tercapai. Untuk itu saya ucapkan terima kasih atas saran dan kritisnya, selamat bertanding habis-habisan bukan berdebat habis-habisan di media sosial," pungkasnya.
Dengan sikap tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kritik publik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga profesionalisme, sembari berharap energi para pendukung dapat diarahkan sepenuhnya untuk mendukung perjuangan Persib di kompetisi.
Arsip - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan di Gedung Sate Bandung. (ANTARA/Ricky Prayoga) (Antara)