Tiga Negara Soroti Krisis Kemanusiaan Kuba, Minta Dialog dengan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Apr 2026, 11:30
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Arsip - Warga Kuba menaiki becak listrik dan sepeda selama pawai anti-imperialisme di tengah kekurangan yang terus berlanjut dan pemadaman listrik yang berkepanjangan, saat pulau itu menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam di bawah embargo Amerika Serikat terhadap Kuba yang telah berlangsung selama beberapa dekade, 2 April, 2026. (ANTARA/Juancho Torres/Anadolu/pri) Arsip - Warga Kuba menaiki becak listrik dan sepeda selama pawai anti-imperialisme di tengah kekurangan yang terus berlanjut dan pemadaman listrik yang berkepanjangan, saat pulau itu menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam di bawah embargo Amerika Serikat terhadap Kuba yang telah berlangsung selama beberapa dekade, 2 April, 2026. (ANTARA/Juancho Torres/Anadolu/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Spanyol, Meksiko, dan Brasil pada Sabtu, 18 April 2026 menyerukan agar Amerika Serikat menjalin dialog yang tulus dan saling menghormati dengan Kuba, di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan di negara tersebut.

Ketiga negara tersebut menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap krisis kemanusiaan yang tengah dialami masyarakat Kuba, sekaligus mendorong langkah konkret untuk meringankan situasi yang ada.

Mereka juga mengingatkan agar tidak ada tindakan yang berpotensi memperparah kondisi kehidupan warga maupun melanggar hukum internasional, serta menegaskan komitmen untuk meningkatkan respons kemanusiaan secara terkoordinasi.

Baca Juga: AS Izinkan Tanker Rusia Kirim Minyak ke Kuba di Tengah Krisis Energi

Selain itu, ketiga negara menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional serta prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk integritas teritorial, kesetaraan kedaulatan, dan penyelesaian konflik secara damai.

Mereka kembali menegaskan komitmen terhadap hak asasi manusia, nilai demokrasi, dan multilateralisme, serta mendorong dialog yang sejalan dengan hukum internasional.

"Tujuannya adalah menemukan solusi jangka panjang dan memastikan rakyat Kuba menentukan masa depan mereka secara bebas," demikian pernyataan tersebut.

Saat ini, Kuba tengah menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan yang ditandai dengan kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik bergilir, serta terbatasnya akses terhadap kebutuhan pokok seperti pangan dan obat-obatan.

Baca Juga: Presiden Kuba Siap Hadapi Ancaman AS

Pemerintah Kuba menilai sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat selama puluhan tahun sebagai penyebab utama krisis tersebut.

Di sisi lain, pihak AS berpendapat bahwa persoalan struktural dalam ekonomi Kuba menjadi faktor dominan yang memperburuk kondisi.

(Sumber: Antara)

x|close