Ntvnews.id, Brasilia - Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam wawancara dengan harian Spanyol El País, Lula menegaskan bahwa pemimpin AS tidak berhak mengeluarkan ancaman sepihak terhadap negara lain.
Pernyataan tersebut muncul sebagai tanggapan atas peringatan Trump sebelumnya terkait Iran, yang menyebut bahwa "seluruh peradaban akan mati" jika Teheran menutup Selat Hormuz.
"Trump tidak berhak bangun di pagi hari dan langsung mengancam sebuah negara," ujar Lula kepada El País.
Lula juga mengingatkan bahwa dalam sistem pemerintahan Amerika Serikat, kewenangan terkait perang dan kebijakan luar negeri tidak hanya berada di tangan presiden, melainkan dibagi bersama Kongres. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab moral bagi para pemimpin dunia.
"Sangat penting bagi para pemimpin berpengaruh untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga perdamaian dunia," tambahnya.
Baca Juga: Trump Minta Hizbullah Taati Gencatan Senjata Lebanon–Israel
Hubungan antara Brasil dan Amerika Serikat saat ini dinilai berada dalam situasi kompleks. Meski pertemuan kedua pemimpin sebelumnya sempat meredakan ketegangan dan menghasilkan penurunan tarif perdagangan, perbedaan pandangan tetap mencolok, terutama dalam isu multilateralisme, perdagangan global, dan perubahan iklim.
Selain itu, Lula kembali menyerukan reformasi besar dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya pada Dewan Keamanan. Ia mendorong penghapusan hak veto negara anggota tetap serta peningkatan representasi bagi negara-negara dari Afrika dan Amerika Latin.
Menurut Lula, kegagalan PBB untuk bertransformasi dapat memperkuat pandangan skeptis terhadap efektivitas sistem internasional pasca-Perang Dunia II.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (Al Jazeera)
"Sudah waktunya untuk mendefinisikan ulang Perserikatan Bangsa-Bangsa demi memberikan kredibilitas. Jika tidak, maka Trump benar [bahwa sistem ini tidak efektif]," tegasnya.
Wawancara tersebut dilakukan menjelang kunjungan resmi Lula ke Spanyol untuk bertemu Perdana Menteri Pedro Sánchez. Dalam agenda tersebut, Lula juga dijadwalkan menghadiri forum pemimpin progresif dunia di Barcelona pada Sabtu, 18 April 2026.
Forum tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh global, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, untuk membahas penguatan kerja sama lintas kawasan.
Arsip foto - Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva. ANTARA/Xinhua/Lucio Tavora/aa. (Antara)