Giliran Himpunan Mahasiswa ITB Disorot, Lagu Viral Diduga Bermuatan Pelecehan Perempuan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Apr 2026, 07:06
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kampus Institut Teknologi Bandung. ANTARA/HO-ITB Kampus Institut Teknologi Bandung. ANTARA/HO-ITB (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nama Institut Teknologi Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah video penampilan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) viral di media sosial. Penampilan tersebut menuai kritik karena dinilai mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan.

Video yang beredar luas di platform X (Twitter) memperlihatkan puluhan mahasiswa menyanyikan lagu berjudul “Erika” dalam sebuah pertunjukan Orkes Semi Dangdut (OSD). Lagu tersebut menjadi kontroversial lantaran liriknya dianggap vulgar dan mengarah pada objektifikasi perempuan.

Dalam video, mahasiswa terlihat antusias bernyanyi bersama, baik di atas panggung maupun di antara penonton. Lirik lagu bahkan ditampilkan di layar, memudahkan seluruh peserta untuk ikut menyanyikan bagian-bagian yang kini dipersoalkan publik.

Unggahan yang pertama kali dipopulerkan oleh akun @iPoopBased itu dengan cepat menyebar dan ditonton lebih dari satu juta kali. Dalam komentarnya, akun tersebut secara terang-terangan mengkritik budaya di dalam himpunan mahasiswa, bahkan membandingkannya dengan organisasi kampus lain.

"Ini anak HMT ITB isinya cabul sama mesum semua apa gimana ya?" tulis akun tersebut, memicu perdebatan luas di kalangan warganet.

Meski ramai diperbincangkan saat ini, lagu “Erika” sebenarnya bukan materi baru. Rekamannya diketahui telah beredar sejak lebih dari satu dekade lalu di berbagai platform digital. Lagu tersebut disebut terinspirasi dari kisah lapangan seorang mahasiswa.

Baca Juga: Di Tengah Gejolak Timur Tengah, Dunia Akui Ketahanan Ekonomi Indonesia

Namun, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, konten yang sebelumnya dianggap sebagai hiburan internal justru mendapat sorotan tajam. Banyak pihak menilai, penyebaran dan pembawaan lagu tersebut secara massal berpotensi menormalisasi perilaku yang merendahkan perempuan.

Kritik pun mengalir deras dari warganet. Sebagian menilai bahwa tradisi semacam itu seharusnya sudah ditinggalkan, terutama di lingkungan akademik.

"Kalau ada yang ngebela ini kultur dari senior turun temurun berarti tolol sih, masa engga bisa mutus rantai kultur yg ngelecehin perempuan kayak gini," tulis salah satu komentar yang ikut viral.

Kontroversi ini semakin sensitif karena muncul di tengah isu dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus yang sama. Sebelumnya, beredar laporan anonim mengenai dugaan kasus serius yang melibatkan mahasiswa.

Kondisi ini membuat publik mempertanyakan efektivitas Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di kampus, serta komitmen institusi dalam membangun lingkungan yang aman dan setara.

Hingga kini, pihak HMT ITB maupun rektorat belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik tersebut. Absennya klarifikasi semakin memperpanjang perdebatan di ruang publik.

Kasus ini menjadi refleksi penting bahwa di era digital, batas antara konsumsi internal dan publik semakin tipis. Aktivitas yang dahulu dianggap biasa di lingkup terbatas kini dapat dengan mudah menyebar luas dan dinilai secara terbuka.

Sejumlah pihak pun mendorong adanya reformasi budaya organisasi mahasiswa, agar lebih selaras dengan nilai kesetaraan gender dan bebas dari unsur yang berpotensi melanggengkan kekerasan atau pelecehan.

 

x|close