Ntvnews.id, Jakarta - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingatkan konsekuensi serius jika konflik di Timur Tengah tidak segera berakhir. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perekonomian dunia.
Pernyataan itu disampaikan SBY dalam acara “Supermentor 28” yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa, 14 April 2026 malam.
"Sekarang hati-hati, kalau perang tidak segera berakhir di Timur Tengah, barangkali nasib dunia terutama perekonomian dunia akan sungguh buruk," ujar SBY.
Baca Juga: Bersama Keluarga, SBY Ramaikan Open House Lebaran di Istana
Ia menjelaskan, sekalipun konflik berakhir dalam waktu dekat, pemulihan ekonomi global tidak akan terjadi secara instan.
"Kalau perang berakhir today, kalau deal bisa dicapai di Islamabad, tidak berarti kita sudah kembali normal. Perlu waktu sekian bulan untuk stabilize, untuk normalize our economy, global economy," ucapnya.
SBY juga mengingatkan agar situasi saat ini tidak diremehkan. Ia membandingkan potensi dampaknya dengan krisis keuangan global yang pernah terjadi sebelumnya, yakni Global Economic Crisis 2008.
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (NTVnews)
"Apa yang kita alami dulu, Global Economic Crisis 2008 itu tak main-main, bisa terjadi lagi kalau tidak ada kesadaran global, kalau pemimpin dunia gagal melaksanakan tugasnya. Penderitaan akan kita alami secara bersama," tegas SBY.
Lebih lanjut, ia mengimbau seluruh pihak untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk guna meminimalkan dampak ekonomi yang mungkin timbul bagi masyarakat.
"Dapatkan apa lessons to be learned, apa poin penting yang bisa kita petik kalau kita menghadapi hal yang serupa. So hoping for the best, preparing for the worst," ujarnya.
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (NTVnews)