Bapanas Jelaskan Harga Kedelai Rp20 Ribu Bukan dari Distributor Resmi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Apr 2026, 22:11
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta melaksanakan sidak di Pasar Menteng Pulo, Jakarta, Kamis (8/4/2026). ANTARA/HO-Bapanas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta melaksanakan sidak di Pasar Menteng Pulo, Jakarta, Kamis (8/4/2026). ANTARA/HO-Bapanas (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa tingginya harga kedelai yang ditemukan di Pasar Menteng Pulo, Jakarta, tidak berasal dari distributor resmi, melainkan dari pedagang kecil dengan stok terbatas sehingga memicu perbedaan harga di lapangan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan bahwa pihaknya segera merespons informasi terkait harga kedelai yang disebut mencapai Rp20.000 per kilogram di wilayah DKI Jakarta.

"Adanya berita harga kedelai yang disebut menyentuh Rp20.000 per kilogram di wilayah DKI Jakarta, langsung direspons Bapanas," kata Ketut di Jakarta, Kamis, 9 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) kedelai melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, yakni maksimal Rp11.400 per kilogram untuk kedelai lokal dan Rp12.000 per kilogram untuk kedelai impor.

Baca Juga: Bapanas: Bantuan Beras dan Minyakita Akan Jangkau Hingga Wilayah 3TP

Sebagai tindak lanjut, Bapanas bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Menteng Pulo.

"Mengenai hal itu, Bapanas bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta melaksanakan sidak di Pasar Menteng Pulo pada hari ini," ujar Ketut.

Dari hasil pengecekan, diketahui bahwa pedagang yang menjual kedelai seharga Rp20.000 per kilogram merupakan pedagang kecil yang tidak mengambil pasokan dari distributor resmi.

"Memang ada kios yang jual kedelai Rp20.000. Ibunya beli stok dari online dengan harga Rp10.100 sampai Rp10.200. Tapi sangat lama laku, sebulan hanya 5 kilo, sehingga harganya dinaikkan," jelas Ketut.

Menurutnya, pedagang tersebut membeli stok dalam jumlah terbatas dan mengalami perputaran barang yang lambat, sehingga harga dinaikkan untuk menutup biaya dan risiko.

Meski demikian, Bapanas tidak melakukan penindakan tegas dan memilih pendekatan persuasif karena jumlah stok yang dimiliki pedagang relatif kecil.

"Dari sisi kuantitas, tentunya memang sangat sedikit dalam sebulan. Jadi ini kita klarifikasi kebenaran berita," beber Ketut.

Ia juga menegaskan bahwa di pasar yang sama masih terdapat pedagang lain yang menjual kedelai sesuai dengan HAP, sehingga harga secara umum tetap stabil.

"Jadi ada dua toko, dua kios dengan harga yang berbeda, ada Rp20.000 per kg, di belakang sedikit harganya Rp12.000. Toko yang kedua dapat dari distributor di harga Rp10.000 sampai Rp 10.500 per kg. Jadi harga dari importir dan distributor sangat bagus," beber Ketut.

Baca Juga: BULOG dan BAPANAS Dapat Apresiasi Mendagri atas Peran Strategis Stabilisasi Harga di Wilayah Terdampak Bencana

Sementara itu, seorang pedagang bernama Heni mengaku membeli kedelai secara daring dalam jumlah kecil, sekitar 5 hingga 6 kilogram, menggunakan beberapa akun pembelian.

"Saya belinya di online. Paling beli 2 kilo, terus bisa 3 akun. Jadi 6 kilo, kadang 5 kilo. Dijual Rp20.000. Kadang habis sebulan, kadang sebulan lebih," kata Heni.

Ia juga menyebut bahwa pembelinya bukan perajin tahu dan tempe, melainkan pedagang kecil seperti penjual bubur ayam atau kebutuhan lain seperti prakarya siswa.

Di sisi lain, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok menyatakan bahwa sidak dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar di masyarakat.

"Setelah dilihat dan dicek dan diklarifikasi memang masih ada ditemukan harga Rp20.000 kg. Tapi Pak Deputi juga sudah menyampaikan alasannya kenapa memang disparitas harga dari satu pedagang dan pedagang yang lain, sangat tinggi sekali," tambah Hasudungan.

Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menurunkan petugas untuk memantau kondisi harga kedelai secara lebih menyeluruh, tidak hanya di pasar, tetapi juga hingga ke tingkat perajin tahu dan tempe di ibu kota.

(Sumber: Antara)

x|close