Pakar Soroti Pernyataan JK soal Potensi Chaos, Ingatkan Elite Lebih Bijak Berkomunikasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Apr 2026, 15:00
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) bersama kuasa hukumnya memberikan keterangan pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Nadia Putri Rahmani Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) bersama kuasa hukumnya memberikan keterangan pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Nadia Putri Rahmani (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) terkait potensi “chaos” pada Juli–Agustus 2026 memicu beragam tanggapan. Selain mendapat respons dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, kritik juga datang dari kalangan akademisi dan analis politik.

Pendiri Literasi Politik Indonesia, Ujang Komarudin, menilai pernyataan tersebut perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi memengaruhi persepsi publik sekaligus berdampak pada stabilitas sosial.

“Oleh karena itu, Pak JK juga mesti bijak dalam konteks membuat pernyataan dan menyikapi kondisi sosial politik yang ada,” ujar Ujang di Jakarta, Minggu (12/4).

Menurutnya, pernyataan dari tokoh elite seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama ketika situasi nasional dinilai relatif kondusif.

“Jangan sampai negara yang stabil ini, negara yang aman ini justru dikomentari atau ditakuti-takuti dengan tuduhan-tuduhan soal (potensi chaos) Juli dan Agustus seperti itu,” lanjutnya.

Ujang menilai kritik yang disampaikan Idrus Marham sejalan dengan upaya menjaga stabilitas. Ia menilai wajar jika ada pihak yang mempertanyakan dasar pernyataan tersebut.

“Kalau kita melihat dari ucapannya Pak Idrus Marham, ya Pak Idrus sangat wajar ya kalau mempertanyakan apa yang dikatakan oleh Pak JK,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa penyebutan waktu secara spesifik terkait potensi kekacauan justru dapat memperkuat keraguan publik terhadap dasar analisis tersebut.

Baca Juga: Premanisme di Tanah Abang Ditindak Tegas, Pramono: Tak Ada Kompromi!

“Itu kan sesuatu yang sesungguhnya tidak berdasar, sesuatu yang tidak beralasan, sesuatu yang tentu ini bertentangan dengan kehendak kita semua, rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dalam pandangannya, di tengah tekanan global seperti dinamika geopolitik dan isu energi, kondisi Indonesia saat ini justru masih relatif stabil dan terkendali.

“Di tengah katakanlah kelangkaan BBM di dunia. Nah, Indonesia kita saksikan hari ini masih nyaman, terkendali, dan masyarakat beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ujang juga membuka kemungkinan adanya kepentingan tertentu di balik pernyataan tersebut, meskipun ia menegaskan hal itu tidak dapat dipastikan.

“Kita juga tidak tahu kalau misalkan Pak JK ada kepentingan lain, misalkan terkait dengan bisnisnya atau usahanya. Kita tidak tahu,” ucapnya.

“Dalam konteks itu saya melihatnya bahwa Pak JK mungkin saja punya agenda lain, bisa saja punya kepentingan lain yang kita tidak tahu di belakangnya. Apakah ada kepentingan terkait dengan bisnisnya, apakah ada kepentingan terkait dengan soal hasrat politiknya, itu kan menjadi sesuatu yang kita tidak tahu,” sambungnya.

Di sisi lain, ia mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berpotensi memicu kegaduhan.

“Kita sebagai rakyat Indonesia harus menahan diri, jangan terprovokasi, jangan ikut hal-hal yang katakanlah aneh-aneh di Republik ini,” katanya.

Ujang menekankan bahwa menjaga stabilitas nasional merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.

“Karena sejatinya menjaga keutuhan bangsa, menjaga persatuan bangsa, menjaga agar tidak chaos, agar tidak gaduh, itu menjadi sebuah kewajiban bagi kita semua rakyat Indonesia untuk memastikan Indonesia tetap aman, nyaman, damai, stabil,” tutup Ujang.

x|close