Ceramah Ramadhan M. Jusuf Kalla di UGM Diplintir jadi Konten Menyesatkan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Apr 2026, 15:01
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Beberapa akun Instagram nyaris bersamaan akhir pekan ini mengunggah potongan video ceramah M. Jusuf Kalla (JK) disertai narasi yang menuduh bahwa Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut memfitnah serta menistakan ajaran Kekristenan. Tuduhan tersebut menyusul pernyataan JK yang menyebut kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon menggunakan istilah "mati syahid".

Namun setelah ditelusuri, tuduhan tersebut merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting) yang parah. Juru bicara M. Jusuf Kalla, Husain Abdullah, dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan membeberkan fakta utuh di balik ceramah yang disampaikan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026) malam.

Beginilah Isi Ceramah yang Dipotong

Dalam video viral tersebut, hanya ditampilkan potongan kalimat JK:

"Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti."

Sejumlah akun Instagram itu lalu menarasikan bahwa JK telah berbohong karena "Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh" dan bahwa ajaran Kristus adalah "Kasihilah musuhmu".

Klarifikasi: JK Sedang Menjelaskan Fakta Konflik, Bukan Khotbah Tentang Ajaran Agama

Husain Abdullah menjelaskan bahwa JK sedang berbicara dalam konteks sejarah konflik Poso dan Ambon (pada masa awal reformasi) yang bernuansa SARA atau menggunakan simbol simbol agama sebagai alasan pembenar. Bukan sedang khotbah mengajarkan teologi Kristen, tetapi menggambarkan usahanya kepada Civitas Akademika UGM, saat meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai Islam dan Kristen yang telah bertindak keliru sehingga menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak.

"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci' dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, karena itu baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA. Konflik yang saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK," ujar Husain di Jakarta, Sabtu (10/4). Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan damai baik untuk Poso maupun Ambon yang masih hidup.

Husain juga menegaskan bahwa tujuan utama ceramah JK justru untuk membongkar pemahaman sesat tersebut. Dan terbukti berkat usaha Pak JK melakukan pelurusan pandangan dua pihak yang bertikai. Membuat baik pihak Islam maupun Kristen bersedia ke Malino, Sulawesi Selatan, untuk berunding membicarakan perdamaian.

"Pada banyak kesempatan Pak JK selalu menjelaskan tentang pernyataannya yang saat itu bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak: bahwa yang mereka lakukan bukan perang suci, tidak akan masuk surga, melainkan neraka bagi mereka yang membunuh tanpa alasan yang jelas. Karena apa yang dilakukan pihak pihak yang bertikai sudah melampaui batas kemanusiaan: membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Perbuatan yang jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih. Artinya, Pak JK justru meluruskan pemahaman keliru ini," tegas Husain.

Lebih lanjut Husain menyebutkan: atas kritik keras JK terhadap klaim "syahid atau Martyr" dalam konflik Poso-Ambon sehingga kedua pihak yang larut dalam konflik bernuansa SARA bersedia berunding di Malino, Sulawesi Selatan, untuk mengakhiri pertikaian dengan kekerasan itu.

Konflik Poso dan Ambon terjadi sekitar 27 tahun lalu. Konflik bernuansa SARA ini mengakibatkan korban jiwa 2.000 orang tewas di Poso dan 5.000 orang tewas di Ambon hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun. Namun kedua konflik ini berhasil didamaikan oleh M. Jusuf Kalla selaku mediator, melalui Perundingan Malino I untuk Poso tahun 2001 dan Perundingan Malino II untuk Konflik Ambon tahun 2002. Saat itu JK melibatkan: tokoh agama Islam dan Kristen, panglima lapangan kedua pihak yang bertikai, tokoh masyarakat dari kedua pihak, dan pemerintah. Sehingga dicapai kesepakatan damai yang dikenal dengan nama Deklarasi Malino.

Baca Juga: Jusuf Kalla Laporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik ke Bareskrim Polri

x|close