Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menilai bahwa opsi operasi militer untuk membuka akses Selat Hormuz bukanlah langkah yang realistis. Ia juga menyampaikan kritik terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai kerap berubah-ubah terkait perang dengan Iran dan aliansi NATO.
"Ada pihak yang menganjurkan pembebasan Selat Hormuz dengan kekerasan melalui operasi militer, posisi yang kadang-kadang diungkapkan oleh Amerika Serikat," kata Macron saat kunjungan ke Korea Selatan, seperti dilansir dari AFP, Minggu, 5 April 2026.
"Saya katakan kadang-kadang karena hal itu bervariasi, itu bukanlah pilihan yang pernah kami pilih dan kami menganggapnya tidak realistis," katanya.
Macron menjelaskan bahwa operasi militer di kawasan tersebut berpotensi memakan waktu panjang dan memiliki risiko tinggi. Ia menilai kapal-kapal yang melintas justru akan lebih rentan terhadap ancaman dari wilayah pesisir, termasuk dari pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps yang memiliki kemampuan militer signifikan.
Baca Juga: Menlu: Negara Berduka, Tiga Kusuma Bangsa Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon
Menurut Macron, solusi terbaik untuk mengatasi krisis tersebut harus melibatkan Iran melalui jalur diplomasi.
"Ini hanya bisa dilakukan bersama Iran," ujarnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Gangguan akibat konflik dalam beberapa pekan terakhir telah berdampak pada lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, Trump dilaporkan menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai salah satu syarat gencatan senjata. Ia juga mendorong negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut untuk ikut bertanggung jawab menjaga keamanan.
Dalam pernyataan sebelumnya, Trump bahkan menyebut negara-negara seperti Jepang, China, dan Korea Selatan seharusnya mengambil peran lebih besar.
"Anda tahu, kita hanya memiliki 45.000 tentara yang berada dalam bahaya di sana, tepat di sebelah kekuatan nuklir. Biarkan Korea Selatan yang melakukannya," kata Trump, merujuk pada Korea Utara.
"Biarkan Jepang yang melakukannya. Mereka mendapatkan 90 persen minyak mereka dari Selat itu. Biarkan China yang melakukannya. Biarkan mereka semua yang melakukannya. Untuk apa kita melakukan ini?" tambahnya.
Arsip - Presiden Prancis Emmanuel Macron. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.) (Antara)
Macron pun menyayangkan inkonsistensi pernyataan Trump terkait konflik tersebut dan menyindir sikapnya yang kerap berubah.
"Anda harus serius. Jika Anda ingin serius, Anda tidak mengatakan hal yang berlawanan setiap hari dengan apa yang Anda katakan sehari sebelumnya. Dan mungkin Anda seharusnya tidak berbicara setiap hari," kata Macron.
Ia juga menilai pernyataan Trump berpotensi merusak soliditas NATO.
"Jika Anda menciptakan keraguan setiap hari tentang komitmen Anda, Anda akan mengikisnya," kata Macron, seraya menambahkan bahwa terlalu banyak pernyataan yang tidak konsisten.
Terkait komentar Trump yang menyinggung kehidupan pribadinya, Macron menilai hal tersebut tidak pantas untuk ditanggapi.
Komentar tersebut dinilainya tidak elegan dan tidak sesuai standar serta tidak layak mendapat tanggapan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. (Xinhua/Lian Yi) (Antara)