Ntvnews.id, Yerusalem - Penutupan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh Israel dilaporkan telah berlangsung selama 34 hari berturut-turut, membatasi akses jamaah ke salah satu situs suci umat Islam tersebut.
Dilansir dari Anadolu, Kamis, 2 April 2026, otoritas Israel menyatakan kebijakan tersebut dilakukan dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Di lapangan, pasukan Israel juga memperketat pengamanan di sekitar kota suci Yerusalem serta di sejumlah pintu masuk wilayah Palestina di Tepi Barat, guna membatasi mobilitas warga.
Baca Juga: AS dan Israel Dilaporkan Serang Dermaga di Selat Hormuz, Lima Orang Terluka
Sementara itu, kelompok yang mendorong peningkatan kehadiran Yahudi di kawasan Bukit Bait Suci terus menyerukan aksi masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa selama periode libur Paskah yang berlangsung pada 2 hingga 9 April. Mereka juga menggaungkan kembali praktik ritual pengorbanan hewan di dalam area tersebut.
Di sisi lain, kebijakan penutupan ini menuai respons dari masyarakat Palestina dan warga Yerusalem yang menyerukan aksi untuk menembus pembatasan di pos pemeriksaan dan barikade militer di sekitar masjid.
Baca Juga: Indonesia Kecam UU Hukuman Mati Israel untuk Warga Palestina
Otoritas Israel disebut memanfaatkan situasi “status darurat” untuk memperkuat kontrol atas kompleks tersebut di tengah meningkatnya tekanan dan seruan pembukaan kembali akses bagi para jamaah.
(Sumber: Antara)
Sejumlah warga Palestina melakukan shalat Idul Fitri di jalanan Yerusalem Timur pada Jumat (20/3/2026). Shalat Id di jalanan itu dilakukan setelah warga gagal mengakses Masjid Al Aqsa yang ditutup pertama kalinya untuk shalat Id sejak 1967 akibat pertimbangan keamanan. ANTARA FOTO/Mostafa Alkharouf - Anadolu Agency/foc. (Antara)