Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini merambah ke sektor teknologi global. Sebuah pusat data milik Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dilaporkan mengalami kerusakan setelah diduga menjadi sasaran serangan rudal yang dikaitkan dengan Iran.
Insiden yang terjadi pada Rabu (1/4/2026) itu memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan infrastruktur digital, khususnya layanan komputasi awan yang menjadi tulang punggung berbagai sistem global, mulai dari bisnis hingga pemerintahan.
Otoritas dalam negeri Bahrain mengonfirmasi bahwa serangan tersebut memicu kebakaran di lokasi terdampak. Tim darurat dikerahkan untuk mengendalikan situasi, namun hingga kini belum ada rincian resmi mengenai tingkat kerusakan, korban, maupun perusahaan mana saja yang terdampak langsung.
Di sisi lain, pihak AWS, unit bisnis cloud dari Amazon belum memberikan pernyataan publik terkait insiden ini.
Serangan Datang Usai Ancaman Terbuka
Serangan terhadap pusat data ini terjadi hanya sehari setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman terbuka terhadap perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi melalui media militer mereka, IRGC menyebut sedikitnya 18 perusahaan teknologi besar diduga terlibat dalam mendukung operasi militer AS. Mereka memperingatkan akan melakukan serangan balasan terhadap target-target tersebut.
Baca Juga: Iran Serang Pusat Data Amazon, Infrastruktur Digital Global Kini Jadi Target Perang
Meski AWS tidak termasuk dalam daftar perusahaan yang disebut secara eksplisit, serangan ke fasilitasnya memunculkan spekulasi bahwa infrastruktur digital tetap menjadi sasaran strategis dalam konflik ini.
IRGC juga sempat mengimbau karyawan perusahaan teknologi untuk meninggalkan kantor dan meminta warga di sekitar fasilitas tersebut untuk mengungsi demi keselamatan.
Insiden ini bukan yang pertama. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah fasilitas AWS di Timur Tengah dilaporkan mengalami gangguan, termasuk akibat serangan drone.
Total, setidaknya empat insiden tercatat dalam kurun waktu sekitar tiga minggu, dengan sebagian besar terjadi di Bahrain. Hal ini menandai eskalasi signifikan, di mana pusat data yang sebelumnya jarang menjadi target militer kini masuk dalam daftar sasaran strategis.
Serangan terhadap pusat data cloud memiliki implikasi luas. AWS sendiri dikenal sebagai salah satu penyedia layanan cloud terbesar di dunia, yang menopang operasional ribuan situs web, aplikasi, hingga sistem pemerintahan.
Gangguan pada infrastruktur ini berpotensi memicu efek domino, termasuk terganggunya layanan digital global serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas sektor teknologi di kawasan tersebut.
Selain itu, insiden ini juga memperkuat kekhawatiran bahwa konflik modern kini tidak hanya terjadi di darat, laut, atau udara, tetapi juga menyasar infrastruktur digital yang menjadi fondasi ekonomi global.
Situasi di Timur Tengah pun kini tidak hanya menjadi perhatian militer dan politik, tetapi juga industri teknologi dunia.
Ilustrasi - Logo Amazon yang berlokasi di Warrington, Inggris. (ANTARA)