Ntvnews.id, Jakarta - Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) yang berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan inovasi teknologi untuk membersihkan air yang tercemar logam berat, khususnya tembaga (Cu²⁺). Teknologi ini memanfaatkan karbon aktif yang dimodifikasi melalui proses iradiasi gamma serta penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Ketua tim riset sekaligus dosen Poltek Nuklir BRIN, Dhita Ariyanti, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi praktis dalam pengolahan limbah air.
“Kami mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien. Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi,” kata Dhita dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.
Baca Juga: BRIN Perkuat Diplomasi Antariksa Indonesia Lewat Partisipasi di UN-COPUOS 2026
Dalam pengembangannya, karbon aktif yang lazim digunakan sebagai media penyaring dimodifikasi dengan mencampurkannya bersama surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), yaitu bahan yang mudah terurai dan lebih ramah lingkungan.
Setelah itu, material tersebut diproses menggunakan iradiasi gamma guna memperbaiki struktur permukaan sehingga daya serap terhadap logam berat meningkat.
Dari hasil penelitian, karbon aktif hasil modifikasi terbukti mampu menyerap logam tembaga dengan lebih cepat dan efektif dibandingkan karbon aktif konvensional. Kondisi optimal dicapai dalam waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi gamma sebesar 10 kiloGray (kGy), yang menghasilkan kapasitas adsorpsi lebih tinggi.
Penggunaan surfaktan MES juga menjadi nilai tambah karena dinilai lebih aman bagi lingkungan dibanding bahan kimia konvensional.
Baca Juga: BRIN: Ubi Kayu Berpotensi Jadi Sumber Pangan dan Pendapatan Berkelanjutan
Dosen Poltek Nuklir BRIN lainnya, Deny Swantomo, turut menjelaskan bahwa proses iradiasi mampu mengubah struktur karbon aktif hingga ke tingkat mikro.
“Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan,” ujarnya.
Selain meningkatkan efektivitas penyerapan, metode ini juga berpotensi mempercepat proses pengolahan air, yang sangat dibutuhkan di sektor industri. Meski demikian, penelitian masih terus dilanjutkan sebagai upaya penyempurnaan.
Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat diterapkan secara luas, baik untuk pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih, demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
(Sumber: Antara)
Tim Satgas Bidang I Mitigasi dan Penanganan Kontaminasi Sumber Radiasi melakukan dekontaminasi radiasi Cesium-137 (Cs-137) yang terdeteksi di kawasan industri modern Cikande, Serang, Banten, Kamis (2/10/2025). ANTARA/HO-KLH (Antara)