Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat memunculkan wacana kontroversial terkait pembiayaan operasi militernya di kawasan Timur Tengah. Presiden Donald Trump disebut tengah mengkaji kemungkinan meminta negara-negara Arab untuk menanggung biaya agresi militer yang diarahkan ke Iran.
Dilansir Al Jazeera, Kamis, 2 April 2026, Gagasan tersebut dinilai sebagai kelanjutan pendekatan diplomasi transaksional Trump, di mana Washington berupaya mengalihkan beban finansial operasi militernya kepada negara-negara mitra di kawasan Teluk.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa ide tersebut bukan hal baru dalam diskursus internal pemerintahan. Pernyataan itu sekaligus menjadi indikasi bahwa opsi tersebut berpotensi direalisasikan dalam konteks eskalasi konflik yang melibatkan AS dan sekutunya terhadap Iran.
Saat ditanya mengenai pihak yang akan menanggung biaya perang, Leavitt membenarkan bahwa Presiden Trump menunjukkan ketertarikan terhadap skema tersebut.
Baca Juga: Gaya Hidup Kepala Dinas di Kabupaten Bekasi Disorot
"Saya rasa itu adalah sesuatu yang akan sangat diminati oleh Presiden untuk meminta mereka (negara Arab) melakukannya. Saya tidak ingin mendahului beliau, tetapi ini adalah sebuah gagasan yang saya tahu beliau pikirkan, sesuatu yang akan Anda dengar lebih lanjut dari beliau," ujar Karoline Leavitt.
Selain isu pembiayaan, muncul pula pertanyaan terkait aspek legalitas pengerahan pasukan ke wilayah konflik. Namun, Leavitt tidak memberikan jawaban tegas ketika dimintai konfirmasi apakah Trump akan meminta persetujuan dari Kongres Amerika Serikat sebelum mengirimkan personel militer ke Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)