AS Kerahkan 3.500 Pasukan ke Timur Tengah, Isyarat Serangan Darat ke Iran?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Mar 2026, 05:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. ANTARA/Anadolu/py/pri. Ilustrasi - Rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan bahwa sekitar 3.500 pasukan tambahan telah tiba di kawasan Timur Tengah menggunakan kapal USS Tripoli. Langkah ini memicu spekulasi terkait kemungkinan persiapan operasi darat ke Iran.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 Maret 2026, pasukan tersebut merupakan bagian dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang tiba pada 27 Maret bersama perlengkapan militer, termasuk pesawat angkut, jet tempur, serta aset serangan amfibi dan taktis.

Pengerahan ini berlangsung di tengah klaim Presiden Donald Trump bahwa proses negosiasi tengah berjalan untuk mengakhiri konflik di Iran. Di sisi lain, militer AS juga diperkirakan akan menambah ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Sementara itu, laporan The Washington Post menyebutkan bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan kemungkinan operasi militer darat di Iran selama beberapa pekan ke depan.

Menurut pejabat AS yang tidak disebutkan identitasnya, Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah mempersiapkan skenario operasi tersebut. Mereka menegaskan bahwa rencana itu kemungkinan tidak akan berkembang menjadi invasi penuh, melainkan melibatkan pasukan khusus dan infanteri konvensional. Namun, belum ada kepastian apakah Trump akan menyetujui seluruh atau sebagian dari rencana tersebut.

Baca Juga: AS Gempur Infrastruktur Militer Iran, Tawaran Gencatan Senjata 15 Poin Mengemuka

Laporan ini muncul beriringan dengan kedatangan pasukan marinir tambahan di kawasan tersebut. Di tengah situasi ini, Trump juga mendesak Iran untuk menyerah dan memperingatkan akan “melepaskan malapetaka” jika Teheran terus menghambat jalur strategis Selat Hormuz.

Konflik antara AS dan Israel dengan Iran diketahui mulai memanas sejak serangan pada 28 Februari 2026. Iran kemudian melakukan serangan balasan ke Israel serta sejumlah fasilitas milik AS di kawasan Teluk.

Selain itu, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dan gas dunia, yang berdampak pada kenaikan harga energi global. Upaya AS untuk mengajak negara lain membuka kembali jalur tersebut juga dilaporkan tidak mendapat dukungan luas dari berbagai negara.

TERKINI

Load More
x|close