Ntvnews.id, Washington - Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan menjalani penahanan dengan pengamanan sangat ketat di fasilitas penjara federal Brooklyn, Amerika Serikat, sebagaimana diungkap dalam laporan CBS News pada Kamis, 26 Maret 2026.
Maduro ditempatkan di unit khusus bagi tahanan berisiko tinggi yang menerapkan sistem Special Administrative Measures (SAMs), yaitu pembatasan komunikasi secara ketat dengan dunia luar. Unit ini bahkan kerap disebut sebagai “penjara di dalam penjara” karena tingkat pengamanannya yang sangat tinggi.
Dalam kondisi tersebut, aktivitas Maduro sangat dibatasi. Ia hanya diperbolehkan keluar dari sel untuk keperluan tertentu seperti mandi, bertemu pengacara, atau beristirahat secara terbatas selama satu jam. Seluruh kegiatannya diawasi secara penuh selama 24 jam oleh petugas.
Baca Juga: Brooklyn Beckham Tegaskan Tak Ingin Lagi Berdamai dengan Keluarganya
Setiap pergerakan di dalam fasilitas juga dikawal ketat oleh petugas pemasyarakatan. Pengawalan ini dilakukan untuk memastikan keamanan maksimal mengingat statusnya sebagai tahanan berprofil tinggi.
Menurut sumber yang mengetahui kasus tersebut, Maduro diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi penahanan seperti ini hingga proses hukum yang dihadapinya selesai, baik berujung pada pembebasan maupun vonis pengadilan.
Unit khusus tersebut diketahui memiliki kapasitas terbatas, hanya mampu menampung sekitar 12 tahanan. Sementara itu, istrinya, Cilia Flores, juga ditahan di fasilitas yang sama, namun berada di unit berbeda.
Laporan tersebut turut menyebut bahwa mantan Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez, kemungkinan pernah ditempatkan di unit serupa sebelum dipindahkan ke lokasi lain.
Baca Juga: Trump Izinkan Penjualan Kembali Minyak Venezuela ke Kuba
Sebelumnya, Amerika Serikat menangkap Maduro dan istrinya pada awal Januari dalam sebuah operasi yang kemudian membawa keduanya ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait dugaan keterlibatan dalam kasus “narko-terorisme.”
(Sumber: Antara)
Pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro berunjuk rasa di luar gedung pengadilan di New York, Amerika Serikat, pada 26 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Zhang Fengguo) (Antara)