Ntvnews.id, Korsel - Pemerintah Korea Selatan tengah menghadapi ancaman krisis energi serius. Presiden Lee Jae Myung menyerukan kampanye nasional penghematan energi di tengah terganggunya pasokan minyak dan gas global akibat konflik di Iran.
Melansir dari Reuters, Kamis, 26 Maret 2026, Lee meminta masyarakat mengubah kebiasaan sehari-hari demi menekan konsumsi energi, mulai dari mandi lebih singkat hingga mengisi daya ponsel hanya pada siang hari.
Pemerintah mengeluarkan panduan berisi 12 langkah penghematan energi yang harus diterapkan masyarakat. Beberapa di antaranya mengurangi durasi mandi, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, hingga menggunakan alat elektronik seperti mesin cuci dan vacuum cleaner di akhir pekan.
Menteri Energi Kim Sung-whan menambahkan bahwa pembatasan penggunaan kendaraan pribadi saat ini masih bersifat sukarela, namun bisa diperketat jika kondisi memburuk.
Tak hanya masyarakat, pemerintah juga meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar untuk mengurangi konsumsi energi mereka. Sejumlah perusahaan besar seperti HD Hyundai telah mulai menerapkan langkah efisiensi, termasuk pembatasan penggunaan kendaraan, pengurangan plastik, hingga penghematan listrik di lingkungan kerja.
Baca Juga: Korea Selatan Bentuk Pusat Krisis Ekonomi Darurat Imbas Konflik Timur Tengah
Lee Jae Myung (Sekretariat Presiden)
Baca Juga: Kim Jong-un Tegaskan Korea Utara Perkuat Nuklir dan Cap Korea Selatan sebagai Musuh Utama
Di sisi lain, pemerintah Korsel akan mengurangi penggunaan mobil dinas di lembaga publik serta mengatur ulang jam kerja guna menekan mobilitas.
Untuk menjaga pasokan energi, Korsel juga berencana mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir mulai Mei, melonggarkan pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara, serta memperluas penggunaan energi terbarukan.
Langkah ini ditargetkan mampu menghemat hingga 20 persen konsumsi gas alam cair (LNG) harian yang saat ini mencapai sekitar 69.000 ton.
Krisis energi ini dipicu gangguan distribusi minyak global akibat konflik di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada jalur vital seperti Selat Hormuz. Sekitar 70 persen impor minyak Korea Selatan melewati jalur tersebut, sehingga gangguan distribusi langsung memukul ketahanan energi nasional.
Meski memiliki cadangan sekitar 190 juta barel minyak, para analis memperkirakan stok tersebut mungkin hanya cukup untuk kurang dari dua bulan jika konsumsi tetap tinggi. Sebagai langkah antisipasi, Korsel juga tengah menyiapkan anggaran tambahan sebesar 25 triliun won untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Lee Jae Myung (Antara/Anadolu)