Ntvnews.id, Jakarta - Nama remaja putri berusia 15 tahun itu, Nayirah — nama lengkapnya tidak disebutkan saat itu — mengaku sebagai relawan di rumah sakit di Kuwait. Di hadapan anggota Komisi HAM Kongres Amerika Serikat pada 10 Oktober 1990, dengan sangat emosional dan meneteskan air mata, Nayirah memberikan kesaksian tentang kekejaman tentara Irak di Kuwait, tiga bulan setelah Irak menguasai Kuwait.
"Saat berada di sana, saya melihat tentara Irak masuk ke rumah sakit dengan senjata. Mereka mengeluarkan bayi-bayi dari inkubator, mengambil inkubator, dan meninggalkan anak-anak itu hingga mati di lantai yang dingin. Itu mengerikan," ujar Nayirah meyakinkan. Suaranya tertahan, air matanya menetes.
"Tentara Irak telah menghancurkan segalanya di Kuwait. Mereka menjarah supermarket, apotek, pabrik-pabrik perlengkapan medis, menggeledah rumah-rumah, dan menyiksa tetangga dan teman-teman saya."
Dalam sorotan kamera televisi, sejumlah anggota Komisi HAM, terlihat tertunduk, larut dalam suasana pilu. Nayirah melanjutkan, "Saya melihat dan berbicara dengan seorang teman, setelah disiksa dan dibebaskan oleh tentara Irak. Dia berusia 22 tahun. Tentara Irak mencelupkan kepalanya ke dalam kolam renang sampai dia hampir tenggelam. Mereka mencabut kuku jarinya dan kemudian menyetrum bagian tubuhnya yang sensitif dan pribadi. Dia beruntung bisa selamat."
Kesaksian Nayirah itu diliput dan disebarluaskan media-media utama Amerika Serikat. Bahkan, malam itu juga, Nightline ABC dan NBC Nightly News—yang menjangkau sekitar 53 juta pemirsa— menayangkan kesaksian Nariyah.
Perusahaan konsultan dan Public Relations (PR) berbasis di New York, Hill & Knowlton, merekam kesaksian Nariyah dan mengirimkan siaran pers video kepada sekitar 700 stasiun televisi di Amerika Serikat. Publik pun gempar, mengecam kekejaman tanpa kemanusian pasukan Irak, yang menginvasi Kuwait pada Agustus 1990.
Presiden AS, George W Bush mengutip kesaksian Nariyah dalam pidato dan keterangan pers. Setidaknya, menurut laporan pers, saat itu, sepuluh kali Bush mengangkat isu ini untuk meraih dukungan publik agar pasukan Amerika Serikat, atas dasar kemanusiaan, diterjunkan untuk membela Kuwait.
Bush berhasil. Publik dan senator AS mendukung rencana Bush mengirim pasukan ke Kuwait. Tidak hanya rakyat AS, Bush juga mendapat dukungan global. Dewan Keamanan PBB Nomor 662, menetapkan pendudukan Irak atas Kuwait sebagai tindakan ilegal. Amerika Serikat, kemudian memimpin koalisi 42 negara mengusir pasukan Saddam Hussein dari Kuwait dalam Operasi Badai Gurun (Operation Desert Storm), pada 17 Januari 1991.
Kesaksian palsu
Setahun setelah Operasi Badai Gurun dan AS berhasil mengusir pasukan Saddam Husain dari Kuwait, skandal kesaksian palsu Nayirah pun terbongkar. Sejumlah wartawan AS yang diberi akses mengunjungi Kuwait menemukan fakta bahwa kesaksian Nariyah tentang bayi prematur yang meninggal dunia di Rumah Sakit Al Adan, Kuwait, ternyata tidak benar.
"Bayi-bayi prematur yang meninggal dunia, justru karena banyak perawat dan dokter Kuwait berhenti bekerja dan menyelamatkan diri ke luar negeri. Tentara Irak bisa dipastikan tidak mencuri inkubator rumah sakit ataupun membiarkan ratusan bayi Kuwait meninggal," kata John Martin, seorang wartawan ABC pada 15 Maret 1991.
Wartawan lain pun melakukan investigasi. John MacArthur menulis editorial di The New York Times pada 6 Januari 1992. Di bawah judul Remember Nayirah, Witness for Kuwait?, MacArthur menemukan bahwa Nayirah ternyata adalah putri Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat, Saud Nasir al-Sabah.
MacArthur mengungkap, kesaksian Nayirah diatur oleh perusahaan public relation Hill & Knowlton untuk memanipulasi opini publik AS agar mendukung intervensi militer dalam Perang Teluk. "Kesaksian Nayirah tentang kematian bayi-bayi kerena inkubator dicuri tentara Irak, benar-benar mengacaukan diskursus di Amerika Serikat tentang perlu tidaknya masyarakat mendukung aksi militer," tulis MacArthur.
Amnesty International AS yang semula memberikan dukungan atas kesaksian Nayirah, mengoreksi sikapnya. Direktur Eksekutif, John Healey, bahkan menuduh pemerintahan George Bush melakukan "manipulasi oportunistik terhadap gerakan hak asasi manusia internasional."
Hasil investigasi Kroll Associates New York, lembaga swasta yang menyediakan layanan intelijen dan investigasi, menyatakan bahwa kesaksian Nayirah mengenai inkubator tersebut tidak didukung bukti, dan bahkan ternyata Nayirah tidak pernah menjadi relawan di Rumah Sakit Al Adan di Kuwait.
Rekayasa konsultan
Sorotan tertuju pada perusahaan konsultan Hill & Knowlton. The Washington Post edisi 8 Juli 1992 memberitakan, Hill & Knowlton dibayar kurang lebih 12 juta dolar AS oleh Citizens for a Free Kuwait, organisasi yang didanai pemerintah Kuwait.
Dari sinilah, kesaksian palsu Nayirah dirancang. Hill & Knowlton membuat skenario, sekaligus sebagai sutradara. Dipilihlah Nayirah al-Ṣabaḥ, remaja 15 tahun, putri Saud Nasir al-Sabah, Duta Besar Kuwait di Amerika Serikat. Hill & Knowlton membuat teks, melatih mimik wajah, tekanan suara, dan saat kapan Nayirah harus menangis.
Di hadapan anggota Komisi HAM Kongres Amerika Serikat pada 10 Oktober 1990 itu, Nayirah — layaknya artis panggung—melakukan setiap adegan dengan cemerlang, menangis di saat yang tepat.
Tidak hanya itu. Hill & Knowlton menyiapkan sejumlah kamera televisi, merekam setiap adegan, termasuk menyorot wajah-wajah pilu dan geram para senator yang hadir. Rilis rekaman video tersebut kemudian dikirim ke berbagai media Amerika Serikat dan sekitar 700 stasiun televisi jaringan Hill & Knowlton.
Apakah Presiden Bush terlibat dalam kesaksian palsu Nayirah? Pertanyaan ini muncul di publik, karena Craig Fuller, pemimpin Hill & Knowlton dan tokoh utama kebohongan ini, adalah sahabat dan penasihat Bush. Mereka telah bersahabat lama. Craig Fuller adalah Kepala Staf Wakil Presiden Bush di era Presiden Ronald Reagan.
Propaganda informasi
John Rick MacArthur, wartawan dan sejarawan Amerika Serikat, dalam bukunya Second Front: Censorship and Propaganda in the Gulf War (1992), tidak saja telah membongkar kekesaksian palsu Nayirah, tapi juga mengkritik tajam cara pemerintah AS melakukan propaganda dengan menggunakan konsultan media, memanipulasi informasi, dan menyensor ketat media selama Perang Teluk.
Menurutnya, Pentagon membatasi akses wartawan ke garis depan untuk mencegah publik melihat kenyataan sebenarnya, termasuk korban sipil. MacArthur juga mengkritik keras media arus utama AS yang pasif, penakut, dan tidak kritis dalam menerima informasi resmi, bahkan ikut serta dalam "perayaan" kemenangan semu.
Dari buku John Rick MacArthur— peraih Monthly Journalism Award pada April 1992 dan Mencken Award pada tahun 1993 — publik dapat memahami bahwa informasi, terutama terkait perang, sangat memungkinkan merupakan hasil kerja manipulatif yang direncanakan.
Dalam perang AS dan Israel melawan Iran, saat ini, unsur manipulatif tersebut pun dapat dirasakan. Alasan preemptif AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, karena khawatir Iran memiliki senjata nuklir, tentu saja sulit diterima akal. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, telah membantah soal senjata nuklir Iran tersebut.
"Apakah mereka (Iran) memilikinya (senjata nuklir)? Tidak," tegas Grossi, seperti dikutip NBC News, Selasa (3/3/2026). Selama ini, Iran membuka akses kepada IAEA untuk menyelidiki dugaan senjata nuklir. Dan, hasilnya nihil. Ini berbeda dengan Israel, yang diyakini memiliki senjata nuklir, dengan perkiraan jumlah hulu ledak berkisar antara 75 hingga 400 unit di Pusat Nuklir Negev, dekat Dimona, selatan Israel.
Hingga saat ini, Israel juga belum menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Ini berbeda dengan Iran, yang patuh dan telah menandatangani NPT sejak 1968, kemudian meratifikasinya pada 1970. Pada Juni 2025, Iran mengancam akan keluar dari NPT karena alasan ketidakadilan dibandingkan dengan perlakuan terhadap Israel.
Jadi, negara mana ancaman sesungguhnya terhadap kedamaian dunia: Israel atau Iran?
Serangan AS-Israel terhadap Iran ini, mempertegas bahwa perang dan kebohongan, seperti sekeping mata uang—yang kedua sisinya tidak terpisahkan. Bahan baku kepingan mata uang tersebut adalah manipulasi informasi. Anehnya, sebagian dari kita menikmati informasi palsu dan menerima kebohongan demi kebohongan.
*Asro Kamal Rokan adalah Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Harian Republika (2003-2005), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023), dan kini anggota Dewan Penasihat PWI Pusat (2025-2030)
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)