Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai aksi boikot terhadap produk yang dianggap berafiliasi dengan Israel tidak menjadi solusi efektif untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, termasuk agresi Israel di Gaza. Menurutnya, langkah tersebut justru berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan masyarakat di dalam negeri.
Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap seruan boikot yang berkembang di tengah masyarakat. “Saat ada seruan boikot terhadap produk-produk pro-Israel, saya termasuk yang prihatin. Saya tahu persis apa yang sedang terjadi di sana. Boikot ini bukan jalan keluar,” kata Nasaruddin dalam acara silaturahmi bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Kekerasan Pemukim Israel di Terhadap Warga Palestina Meningkat
Nasaruddin mengungkapkan bahwa dampak dari aksi boikot tersebut sudah dirasakan oleh para pekerja di Indonesia. Ia menyebut sekitar 3.000 karyawan dari salah satu jaringan restoran cepat saji terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kondisi ini dinilai sebagai konsekuensi langsung dari penurunan aktivitas bisnis akibat tekanan boikot.
Ia juga menjelaskan bahwa sebelumnya telah mengundang sejumlah pelaku usaha ke Masjid Istiqlal untuk memberikan dukungan moral kepada dunia usaha yang terdampak situasi tersebut. “Ini berarti umat Islam dua kali rugi. Di sana dibantai, di sini di-PHK,” katanya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan dunia usaha karena sektor tersebut menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
“Tanpa dunia usaha, Indonesia tidak mungkin bisa bertahan. Yang paling banyak membayar pajak siapa, yang membiayai operasional negara ini siapa, ya pengusaha. Kalau pengusaha diserang dari berbagai sisi, bagaimana negeri ini bisa besar,” ucapnya.
Aksi boikot terhadap produk Israel maupun yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Israel sendiri menguat di berbagai negara, termasuk Indonesia, setelah pecahnya konflik antara Hamas dan Israel di Gaza.
Baca Juga: Jerman Boikot Piala Dunia 2026
Gerakan ini mulai ramai sejak akhir 2023 sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina sekaligus sebagai upaya memberi tekanan ekonomi kepada Israel.
Di Indonesia, seruan boikot banyak diarahkan pada sejumlah merek makanan dan minuman cepat saji yang dinilai memiliki hubungan dengan Israel. Kampanye tersebut menyebar luas di media sosial dan mendapat dukungan dari berbagai kelompok masyarakat.
(Sumber: Antara)
Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin doa dalam acara silaturahmi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana) (Antara)