Spanyol Kerahkan Militer Setelah Gelombang Migran Picu Krisis Perbatasan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Agu 2026, 05:53
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol (Instagram @wj._com)

Ntvnews.id, Madrid - Pemerintah Spanyol memutuskan mengerahkan personel militer ke wilayah Ceuta setelah lonjakan kedatangan migran memicu krisis di kawasan perbatasan dengan Maroko. Langkah tersebut diambil menyusul permintaan pejabat setempat yang mendesak Madrid menetapkan status darurat nasional.

Dilansir dari DW, Sabtu, 1 Agustus 2026, permintaan itu muncul setelah beredar rekaman yang memperlihatkan kerumunan orang berjalan di sepanjang pemecah ombak serta memanjat pagar pembatas antara Maroko dan wilayah Spanyol.

Menanggapi perkembangan tersebut, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan pemerintah pusat akan segera mengambil langkah penanganan.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol kemudian mengonfirmasi pengerahan angkatan bersenjata untuk membantu pengamanan di Ceuta.

"Angkatan bersenjata akan memperkuat Guardia Civil (personel keamanan Spanyol) dalam menjalankan kewenangannya serta tindakan lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan sipil di kota Ceuta," demikian pernyataan kementerian.

Menurut Guardia Civil, gelombang migran berhasil menerobos pagar perbatasan dan memasuki wilayah Spanyol. Rekaman lain juga memperlihatkan ratusan orang berenang dari wilayah Maroko menuju Ceuta dengan menggunakan berbagai alat bantu apung, termasuk ban.

Ketua asosiasi yang mewakili Guardia Civil di Ceuta, Rachid Sbihi, menggambarkan situasi di lapangan berlangsung sangat kacau.

"Situasinya benar-benar kacau balau," katanya.

Baca Juga: Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol, 9 Orang Dilaporkan Tewas

Ia mengaku belum dapat memastikan jumlah pasti migran yang menyeberang, namun memperkirakan jumlahnya mencapai ribuan orang.

"Tidak mungkin memberikan angka pasti, tetapi kami memperkirakan ada ribuan migran yang menyeberang," lanjutnya.

Sementara itu, kantor berita AFP mengutip pernyataan juru bicara delegasi pemerintah Spanyol di Ceuta yang menyebut sedikitnya sembilan orang meninggal dunia dalam insiden di kawasan pantai tersebut.

Peristiwa ini mengingatkan pada krisis serupa pada Mei 2021 ketika lebih dari 8.000 orang memasuki Ceuta hanya dalam waktu dua hari.

Dalam beberapa hari terakhir, tim penyelamat juga mencatat peningkatan jumlah migran yang mencoba mencapai wilayah Spanyol melalui jalur laut.

Kepala Pemerintahan Ceuta, Juan Jesus Vivas, meminta pemerintah pusat menetapkan keadaan darurat berdasarkan alasan keamanan nasional. Ia juga mendesak penambahan personel kepolisian serta pengerahan militer untuk memperkuat pengamanan perbatasan.

Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol <b>(Instagram @wj._com)</b> Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol (Instagram @wj._com)

Permintaan tersebut disampaikan setelah rapat dewan juru bicara kota menghasilkan keputusan bulat.

"Kemarin, saya angkat bicara untuk memperingatkan betapa seriusnya krisis migrasi yang sedang kita hadapi," tulis Vivas melalui media sosial.

Ia menjelaskan bahwa kondisi kini semakin memburuk karena terjadi kedatangan migran dalam jumlah besar pada malam hari.

"Hari ini, hanya beberapa jam kemudian, situasinya bahkan lebih kritis, ada kedatangan massal pada malam hari, hampir seribu orang menunggu di luar CETI (Pusat Penampungan Migran Sementara). Sumber daya kami benar-benar kewalahan, dan satu nyawa lagi hilang di laut," ungkapnya.

Menurut Vivas, Ceuta kini menghadapi keadaan darurat kemanusiaan dan sosial yang membutuhkan penanganan nasional.

"Kami tidak mampu menghadapi tekanan ini sendirian, tekanan yang telah mengakibatkan kedatangan antara 1.500 hingga 2.000 orang hanya dalam 10 hari, setara dengan 2% dari populasi kami." jelasnya.

Ia juga memperingatkan bahwa "setiap jam yang berlalu, situasi menjadi semakin sulit" bagi kota yang dihuni sekitar 85.000 penduduk tersebut.

Merespons kondisi itu, Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan pemerintah pusat akan bergerak cepat.

"sepenuhnya berkomitmen untuk segera memberikan tanggapan" terhadap situasi tersebut, kata Sanchez.

Ia menambahkan pemerintah sedang berkoordinasi dengan otoritas Maroko dan mitra internasional untuk mengendalikan situasi.

Baca Juga: Tindaklanjuti Kunjungan Presiden Prabowo, KP2MI Gandeng Albania Lindungi Pekerja Migran Indonesia

"Kami sedang mengerahkan semua sumber daya yang diperlukan, bekerja sama dengan pihak berwenang Maroko dan internasional, serta mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan menjadi normal secepat mungkin," tulisnya.

Sanchez juga mengajak seluruh pihak mengedepankan kerja sama dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

"inilah saatnya untuk membangun solusi, dengan penuh tanggung jawab dan kerja sama," katanya.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan pemerintah Maroko bekerja sama secara erat dalam menangani krisis tersebut. Aparat keamanan Maroko disebut telah mencegah banyak orang yang berusaha menyeberangi perbatasan.

Kedua negara juga sepakat bekerja sama agar seluruh migran yang memasuki Ceuta secara ilegal dapat dipulangkan secepat mungkin.

Selain itu, Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska dijadwalkan mengunjungi Ceuta untuk meninjau langsung perkembangan situasi.

Hingga kini, penyebab meningkatnya arus migran dalam beberapa hari terakhir belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah pihak mengaitkannya dengan putusan Mahkamah Agung Spanyol pada awal Juli mengenai penanganan migran yang tiba melalui jalur laut, serta kembali mencuatnya kebijakan pemberian izin tinggal bagi migran yang telah berada di Spanyol sebelum aturan tersebut diberlakukan.

Kebijakan itu memicu kritik dari Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani yang menilai langkah Spanyol dapat mendorong praktik perdagangan manusia dan menyerukan agar kawasan Schengen ditutup bagi Spanyol.

Pernyataan tersebut langsung dibalas Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Luis Albares yang menyebut tudingan Tajani "tidak pantas" serta menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah solidaritas antarnegara Eropa, bukan retorika yang bersifat provokatif.

HIGHLIGHT

x|close