NTVNews.id, Jakarta - Gelombang migran dari Maroko menuju wilayah Ceuta, Spanyol memicu situasi darurat setelah ribuan orang berusaha menyeberangi laut untuk memasuki kawasan Spanyol di Afrika Utara tersebut.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari China Daily pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam insiden itu, sedikitnya sembilan migran dilaporkan meninggal dunia saat berupaya mencapai Ceuta melalui jalur laut.
"Setidaknya sembilan migran tewas saat mencoba mencapai wilayah kantong Spanyol tersebut melalui laut," tulis narasi tersebut.
Pemerintah Spanyol merespons situasi tersebut dengan mengerahkan pasukan bersenjata yang ditempatkan di wilayah Ceuta. Pasukan tersebut ditugaskan untuk membantu Garda Sipil Spanyol menghadapi lonjakan kedatangan migran.
Baca Juga: Tindaklanjuti Kunjungan Presiden Prabowo, KP2MI Gandeng Albania Lindungi Pekerja Migran Indonesia
Menurut laporan media Spanyol, personel militer akan memperkuat pengamanan dan menjalankan tugas di bawah koordinasi Komando Operasi Angkatan Bersenjata.
Ribuan migran dilaporkan memasuki Ceuta pada Kamis. Lonjakan kedatangan tersebut memberikan tekanan besar terhadap fasilitas penerimaan migran dan sistem keamanan setempat.
Situasi ini mendorong Pemimpin Regional Ceuta Juan Jesus Vivas meminta pemerintah pusat mengambil langkah luar biasa. Ia menyerukan agar pemerintah Spanyol menetapkan kondisi tersebut sebagai keadaan darurat nasional dan menerapkan komando terpadu untuk menangani krisis migrasi.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan pemerintah Spanyol dan Maroko telah sepakat meningkatkan koordinasi dalam menghadapi gelombang migrasi tersebut. Kedua negara juga akan mempercepat prosedur pemulangan orang-orang yang memasuki Ceuta secara ilegal sesuai mekanisme yang berlaku.
Komisaris Eropa untuk Urusan Dalam Negeri dan Migrasi, Magnus Brunner mengatakan Uni Eropa siap meningkatkan dukungan kepada Spanyol dalam menangani situasi tersebut.
Melalui unggahan di platform X, Brunner menyebut dukungan dapat diberikan melalui Frontex, badan Uni Eropa yang bertugas membantu pengelolaan perbatasan eksternal.
Uni Eropa juga disebut tengah berkomunikasi dengan otoritas Maroko untuk membantu mencegah upaya penyeberangan ilegal melalui jalur laut yang berisiko membahayakan keselamatan migran.
Respons pemerintah Spanyol terhadap krisis tersebut terus ditingkatkan. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Jumat, untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Ceuta merupakan salah satu dari dua kota otonom Spanyol yang berada di pantai Afrika Utara. Bersama Melilla, Ceuta menjadi salah satu titik strategis karena merupakan bagian dari wilayah Uni Eropa yang berbatasan langsung dengan daratan Afrika.
Ribuan Migran Maroko Nekat Berenang ke Spanyol (Instagram @wj._com)