Ntvnews.id, Beijing - Seorang anak perempuan mengalami luka setelah berinteraksi dengan seekor singa di Shantou Zhongshan Park Zoo. Menyusul insiden tersebut, pengelola kebun binatang memutuskan menutup sementara lokasi wisata itu guna melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Dikutip dari laporan World Animal Protection, Jumat, 13 Maret 2026, korban merupakan seorang gadis berusia 10 tahun yang masuk ke area terbatas ketika mengikuti sesi pemberian makan hewan.
Dalam sejumlah laporan yang beredar, disebutkan bahwa bocah tersebut dibawa ke zona penyangga yang dibatasi. Di area itu, pengunjung memang diperbolehkan memberi makan satwa. Namun praktik ini telah lama menuai kritik karena dinilai memiliki risiko keselamatan yang tinggi.
Berdasarkan rekaman kejadian, gadis itu tampak menyodorkan makanan kepada seekor singa betina. Tiba-tiba hewan tersebut mengulurkan cakarnya dan mencengkeram celana korban. Dengan sekali tarikan, tubuh anak tersebut terseret masuk ke dalam kandang.
Baca Juga: Viral Detik-Detik Anak Dicengkeram Singa di Kebun Binatang
Seorang penjaga kebun binatang segera bertindak dengan menahan tubuh anak tersebut sambil berusaha melepaskan cengkeraman singa menggunakan batang logam. Dalam situasi itu, seekor singa lain juga menunjukkan perilaku agresif dan berusaha menjangkau korban melalui jeruji kandang. Perjuangan tersebut berlangsung sekitar tiga puluh detik hingga akhirnya anak tersebut berhasil diselamatkan.
Akibat insiden itu, korban mengalami luka lecet ringan di bagian kaki. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, termasuk pemberian vaksin rabies. Setelah menjalani pemeriksaan, gadis tersebut diperbolehkan pulang pada malam harinya.
Pihak pengelola kebun binatang kemudian menutup sementara fasilitas tersebut. Saat ini, manajemen tengah melakukan evaluasi terhadap protokol keselamatan serta menyelidiki kemungkinan kelalaian yang membuat seorang anak bisa memasuki area yang seharusnya terlarang bagi pengunjung.
Peristiwa ini kembali memicu sorotan terhadap praktik industri wisata satwa liar yang dinilai lebih menekankan aspek komersialisasi dibandingkan kesejahteraan hewan dan keselamatan pengunjung.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa singa dan kucing besar lainnya yang hidup di penangkaran kerap mengalami gangguan perilaku akibat ruang gerak terbatas, kurangnya stimulasi alami, serta interaksi manusia yang dipaksakan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif.
Selain itu, fasilitas wisata yang menawarkan sesi memberi makan satwa atau berfoto dengan hewan liar dinilai berpotensi menimbulkan bahaya, baik bagi hewan maupun pengunjung.
Hewan liar yang hidup di ruang terbatas juga sering mengalami stres kronis karena tidak memiliki kesempatan untuk menjauh dari keramaian pengunjung. Tekanan tersebut dapat memicu perilaku yang tidak terduga dan berpotensi membahayakan.
Ilustrasi Hewan/ Taman Margasatwa / Kebun Binatang (Istimewa)