Pramono Blak-blakan Potensi Longsor Susulan di Bantargebang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 12:07
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Pramono Anung Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyoroti potensi longsor susulan di area gunungan sampah TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Hal ini menyusul insiden longsor yang terjadi pada Minggu, 8 Maret 2026, menewaskan empat orang.

Pramono mengakui bahwa kemungkinan longsor susulan tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Namun, ia telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi untuk memantau kondisi di lapangan serta mengambil langkah penanganan cepat.

"Kalau saya bilang nggak ada potensi susulan pasti kita tidak bisa memprediksi itu. Tetapi yang jelas, kebetulan tadi saya bersama dengan Pak Firdaus, dengan Pak Afan, dengan Dinas LH ke lapangan, juga Dinas Sumber Daya Air, memang melihat kemarin karena curah hujannya itu tinggi sekali," ucapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.

Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, longsor diduga dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mencapai sekitar 264 milimeter per hari. Intensitas hujan yang sangat tinggi membuat air meresap ke dalam tumpukan sampah sehingga menyebabkan permukaan menjadi licin dan memicu pergerakan atau sliding yang berujung longsor.

"Kemarin itu 264 mm per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta. Dan kemudian karena hujan yang lama, masuk ke dalam sampah, menyebabkan sliding atau licin kemudian longsor ke Bawah," terangnya.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera melakukan normalisasi di area yang terdampak, terutama di Sungai Ciketing yang sempat tertutup material sampah akibat longsor.

Personel Basarnas saat melakukan evakuasi korban timbunan longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. <b>(Antara)</b> Personel Basarnas saat melakukan evakuasi korban timbunan longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Antara)

Baca Juga: Pramono Ungkap Identitas Korban Longsor Sampah Bantargebang: 2 Sopir, 1 Pedagang, dan 1 Pemulung

Menurut Pramono, keberadaan sungai tersebut sangat penting bagi aktivitas warga di sekitar lokasi. Jika aliran sungai tertutup, dampaknya juga dapat mengganggu akses jalan di area sekitar.

"Begitu tertutup maka jalannya juga tertutup, di lapangan kelihatan sekali. Dan untuk itu segera akan dinormalkan Kembali," jelasnya.

Selain penanganan di Bantargebang, Pemprov DKI Jakarta juga terus mempercepat pengoperasian fasilitas pengolahan sampah di Rorotan Jakarta. Saat ini proses commissioning masih berlangsung dan diharapkan segera selesai agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara normal.

Pramono menargetkan fasilitas pengolahan sampah di Rorotan mampu menangani sekitar 1.000 ton sampah per hari. Jika target tersebut tercapai, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang dapat berkurang secara signifikan.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan mulai memperketat sistem pemilahan sampah sebelum dikirim ke Bantargebang atau tempat pembuangan akhir. Kebijakan ini dilakukan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

"Karena sekarang ini hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan kemudian dikirim ke Bantargebang. Dan untuk itu Pemerintah DKI Jakarta sesuai dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup kami akan melakukan pemisahan," tutup Pramono Anung.

x|close